50% Ekonomi Dunia Akan Dikuasai Asia Pada Tahun 2050, Indonesia Salah Satunya
Petani Sawit, foto : asiatoday.id
Jakarta, kabarsawit.com - Lebih dari 50% penduduk dunia dan lebih dari 60% ekonomi dunia berada di kawasan Asia. Kawasan Asia adalah sentra utama bagi konsumsi minyak sawit saat ini dan masa yang akan datang.
Menurut Dr. Ir. Tungkot Sipayung, Executice Director at PASPI dalam jurnal nya di Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, Produksi minyak sawit dunia atau crude palm oil (CPO) meningkat tajam dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Pada tahun 2010 CPO yang dihasilkan sebanyak 49 juta ton, lalu terjadi kenaikan sekitar 27 juta ton menjadi sekitar 75 juta ton pada tahun 2021. Artinya CPO naik 2.7 juta ton per tahun selama 10 tahun terakhir.
Kawasan Asia Tenggara menyumbang sekitar 87-89 persen dari produksi minyak sawit global. Empat negara utama produsen minyak sawit di ASEAN adalah Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Karena ASEAN adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia, negara-negara Asia Tenggara yang menghasilkan minyak sawit pun ikut bergabung dengan kelompok seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA) dan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC). Dengan bergabung dalam kelompok ini, mereka dapat memainkan peran yang lebih besar dalam pasokan minyak sawit baik di kawasan Asia maupun di seluruh dunia.
Selain menjadi produsen minyak sawit dunia, ASEAN juga menjadi produsen oleofood complex dunia dan juga oleochemical complex maupun bioenergy/biofuel complex dunia.. Hal ini menjadikan ASEAN memengaruhi banyak sektor ekonomi di setiap negara.
ASEAN juga tidak hanya merupakan pusat produksi minyak sawit terbesar di dunia, tetapi juga merupakan wilayah yang cukup besar yang mengkonsumsi minyak sawit. Pada tahun 2010, pangsa konsumsi minyak sawit di kawasan ASEAN hanya sekitar 26% dari total konsumsi minyak sawit dunia, tetapi pada tahun 2021 akan meningkat menjadi sekitar 33%.
Pertumbuhan konsumsi minyak sawit ASEAN tersebut terjadi baik secara relatif maupun absolut, yang menunjukkan bahwa ASEAN tidak terlalu bergantung pada pasar di luar kawasan ASEAN. Pertumbuhan pangsa konsumsi ini juga menunjukkan bahwa ASEAN menjadi produsen minyak sawit utama dunia.
Sekitar 60 persen dari konsumsi minyak sawit global dilakukan di wilayah Asia, yang mencakup ASEAN dan negara-negara Asia utama lainnya seperti India, China, Pakistan, dan Bangladesh. Konsumsi minyak sawit di kawasan Asia tidak hanya besar, tetapi juga meningkat dengan cepat. Secara absolut, konsumsi minyak sawit di kawasan Asia meningkat dari sekitar 26 juta ton pada tahun 2010 menjadi 45 juta ton pada tahun 2021, dengan pangsa relatif naik dari sekitar 58% menjadi 62% pada periode yang sama.
Salah satu sumber minyak nabati penting di India, Pakistan, China, dan negara Asia lainnya adalah minyak sawit. Negara-negara Asia ini bukan hanya importir minyak sawit, tetapi juga menikmati "kue ekonomi" dari kegiatan hilirisasi sawit di negara-negara yang bersangkutan. Dengan demikian, negara-negara importir minyak sawit Asia dan negara-negara produsen minyak sawit Asia dapat hidup dalam simbiosis mutualisme satu sama lain.
Menjelang tahun 2050, China, India, dan Indonesia, ketiga negara tesebut akan menjadi ekonomi terbesar dunia, dengan pasar Asia yang menjadi lebih besar dan menduduki lebih dari 50% ekonomi dunia. Ini berarti bahwa dalam waktu kurang lebih satu siklus produksi kelapa sawit ke depan, tiga negara Asia ini akan menduduki lebih dari 50% ekonomi dunia.
Konsumsi minyak sawit meningkat dalam bentuk produk oleofood, oleokimia, dan biofuel atau bioenergi biasanya diikuti oleh peningkatan pendapatan masyarakat dari kelompok berpendapatan rendah ke menengah atau dari kelompok berpendapatan menengah ke atas. Ini menunjukkan bahwa pasar minyak sawit di kawasan Asia akan berkembang 2 kali lebih cepat dari sebelumnya sebagai hasil dari pertumbuhan jumlah penduduk, perubahan komposisi penduduk, dan pertumbuhan ekonomi.
Menghadapi masa depan pasar minyak sawit Asia, Indonesia dan negara-negara produsen minyak sawit di ASEAN harus mencurahkan sumber daya mereka untuk membangun kerjasama atau kemitraan di wilayah Asia. Kerjasama poros ekonomi ASEAN-China-India (ACI), khususnya minyak sawit, akan jauh lebih menguntungkan.








