Petani Sawit di Bengkulu Keluhkan Kondisi Jembatan Gantung Rusak
Jembatan gantung yang semakin parah di Desa Talang Giring.
Bengkulu, kabarsawit.com - Petani Kelapa Sawit di Desa Talang Giring, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, mengeluhkan kondisi jembatan gantung yang semakin parah.
Jembatan gantung dengan panjang 80 meter dan lebar 1,5 meter ini merupakan akses utama untuk mengangkut Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dari perkebunan ke pabrik pengolahan. Namun, keropos dan berlobangnya jembatan ini menyebabkan petani sawit khawatir akan terjadinya kecelakaan.
Kepala Desa Talang Giring, Idiman mengatakan, jembatan gantung tersebut telah lama rusak, tetapi warga desa melakukan swadaya untuk memperbaikinya.
Tapi perbaikan yang dilakukan tidak serta merta membuat jembatan bertahan lama. Bahkan saat ini dalam kondisi rusak dan berisiko untuk dilintasi.
"Sebelumnya jembatan itu sudah hancur namun atas kesepakatan warga melakukan Swadaya dengan melakukan Iuran 10 ribu maka jembatan itu diperbaiki lagi demi kelancaran akses warga setempat, tapi itu tidak berlangsung lama karena sekarang sudah rusak kembali," kata Idiman, kemarin.
Jembatan gantung yang menjadi perhatian masyarakat Desa Talang Giring ini sebelumnya telah mengalami kerusakan parah.
Namun, atas inisiatif warga dan dengan melakukan swadaya, jembatan tersebut berhasil diperbaiki dengan mengganti papan kayu. Hal ini membuat akses transportasi untuk warga setempat dan petani kelapa sawit menjadi lancar kembali.
"Sangat wajar jika sudah dilakukan perbaikan karena manfaatnya sangat besar bagi warga sekitar, kalau tidak juga diperbaiki, terpaksa warga menyebrangi sungai yang deras dan berbahaya," kata Idiman.
Jembatan gantung ini memiliki peran vital sebagai penghubung tercepat bagi warga menuju Desa Padang Capo, yang dapat dicapai dalam waktu 15 menit saja.
Tanpa jembatan ini, perjalanan harus memutar melalui Desa Padang Pelasan yang memakan waktu hingga 2,5 jam. Kondisi jembatan yang kritis ini mengakibatkan kekhawatiran bahwa warga akan terpaksa menyeberangi sungai yang berbahaya dan deras.
"Saat rapat paripurna terakhir di DPRD, tiga fraksi juga sudah menyampaikan keluhan masyarakat terkait jembatan tersebut kepada Pemkab Seluma. Harapannya agar segera dilakukan perbaikan namun usulan itu belum ditanggapi pihak eksekutif Pemkab Seluma," kata Nofi.
Ketua DPRD Seluma, Nofi Eriyan Andesca mengatakan, masalah kerusakan jembatan Desa Talang Giring telah dibahas dalam rapat Paripurna DPRD Seluma.
Tiga fraksi yang hadir telah menyampaikan keluhan masyarakat mengenai jembatan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Seluma. Namun, hingga saat ini, usulan untuk perbaikan jembatan belum mendapatkan tanggapan dari pihak eksekutif Pemkab Seluma.
"Sebelumnya pembangunan jembatan tersebut telah masuk di dalam APBD 2023 dan sudah diperdakan dengan Tim TAPD dan DPRD Seluma. Jika tidak terlaksana masyarakat pasti pasti kecewa karena sejak dibangun pada tahun 1998 lalu, jembatan tersebut tidak pernah lagi tersentuh pembangunan," kata Nofi.
Sebelumnya, pembangunan jembatan gantung Desa Talang Giring telah dimasukkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2023 dan telah melalui tahap persetujuan dari Tim Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (TAPD) serta DPRD Seluma. Namun, hingga saat ini, pembangunan jembatan tersebut belum juga terlaksana.
"Harapan masyarakat tidak mengapa meskipun hanya pembangunan abutment (kepala jembatan) terlebih dahulu di tahun ini supaya pembangunan selanjutnya bisa dilanjutkan lagi menggunakan APBD 2024," pungkasnya.








