Potensi Karbon Aktif Dari Cangkang Sawit di Bengkulu Lebih 12 Ribu Ton
Ilustrasi - cangkang sawit.
Bengkulu, kabarsawit.com - Di Provinsi Bengkulu terdapat potensi karbon aktif yang cukup besar dari cangkang sawit. Diperkirakan daerah ini mampu menghasilkan lebih dari 12 ribu ton karbon aktif setiap bulannya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bengkulu, Yenita Saiful menjelaskan bahwa potensi karbon aktif di wilayah tersebut mencapai lebih dari 12 ribu ton per bulan dengan nilai ekonomi sekitar Rp 40 miliar.
Meskipun potensi ini cukup besar, sayangnya belum ada perusahaan di daerah ini yang fokus dalam bisnis karbon aktif, padahal sektor ini memiliki pangsa pasar yang luas di tingkat global.
"Potensi karbon aktif kita besar, tapi belum ada perusahaan yang menggeluti bisnis ini di Bengkulu," kata Yenita, kemarin
Yenita juga menyatakan bahwa karbon aktif atau arang aktif merupakan material amorf berkarbon dengan luas permukaan yang besar, dibentuk melalui struktur pori internalnya melalui proses karbonisasi dan aktivasi.
Penggunaan arang aktif meliputi sektor industri (pengolahan air, makanan dan minuman, rokok, bahan kimia, sabun, lulur, sampo, cat dan perekat, masker, alat pendingin, otomotif), kesehatan (penyerap racun dalam saluran cerna dan obat-obatan), lingkungan (penyerap logam dalam limbah cair, penyerap residu pestisida dalam air minum dan tanah, penyerap emisi gas beracun dalam udara, meningkatkan total organik karbon tanah, mengurangi biomassa mikroba dan agregasi tanah) dan pertanian.
"Jadi sangat banyak kegunaan dari karbon aktif atau arang aktif ini," kata dia.
Di Bengkulu, karbon aktif dapat diproduksi dari bahan terbarukan yang lebih ekonomis, salah satunya adalah cangkang sawit. Produk sampingan dari kelapa sawit ini memiliki potensi untuk menjadi karbon aktif dengan kualitas terbaik. Bahkan beberapa negara seperti Swedia telah menunjukkan minat untuk memesan karbon aktif dari cangkang sawit ini.
"Selama ini banyak perusahaan hanya mengekspor cangkang sawit sebagai bahan baku tanpa proses pengolahan lebih lanjut. Padahal jika diolah menjadi karbon aktif, harganya akan lebih mahal daripada cangkang sawit mentah," jelas Yenita.
Yenita juga mengatakan harga cangkang yang belum di olah saat ini mencapai Rp 750 hingga Rp 1.000 per kilogram. Sementara yang telah diolah menjadi karbon aktif sekitar Rp 8.000 hingga Rp 9.000 per kilogram.
"Menurut saya, ini adalah potensi yang sangat luar biasa dan harus dikelola dengan baik oleh daerah," pungkasnya.
Di sisi lain, Pengusaha Cangkang Sawit di Bengkulu, Ali Akbar mengungkapkan, pihaknya tidak hanya akan mengekspor cangkang sawit, tetapi juga akan menggarap potensi dalam bidang karbon aktif. Pasalnya, permintaan terhadap komoditas ini cukup tinggi di pasar internasional.
"Kita akan mencoba menggarap potensi karbon aktif karena permintaan dari pasar luar negeri terhadap komoditas ini juga sangat tinggi," tutupnya.








