Rosmala : Petani Sawit Jangan Memupuk saat Musim Penghujan
Ilustrasi - petani sawit di Bengkulu melakukan pemupukan pada tanaman sawit. Foto: Dok Kabarsawit
Bengkulu, kabarsawit.com - Akibat air hujan kelapa sawit menjadi terbuang, petani kelapa sawit di Bengkulu diminta untuk menghindari pemupukan selama musim penghujan.
Menurut Rosmala Dewi, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, produktivitas tanaman dipengaruhi oleh pemupukan kelapa sawit.
Tujuan pemupukan adalah untuk memberikan nutrisi tambahan pada tanah agar tanaman dapat menyerapnya selama proses pertumbuhan. Jika nutrisi tersedia dalam jumlah yang cukup dan berimbang, pertumbuhan tanaman akan lebih baik.
“Tapi pemupukan pada musim hujan malah akan menyebabkan pencucian, erosi, run off, dan penguapan,” ujar Rosmala, kemarin.
Bahkan dia mengatakan bahwa musim hujan dapat menghilangkan unsur hara melalui proses pencucian atau leaching, yang merupakan proses di mana hara dihilangkan karena pergerakan air tanah dari lapisan atas ke bawah sampai kedalaman tertentu.
“Sifat fisik dan kimia tanah, jenis pupuk dan kelarutannya, curah hujan, dan faktor tanaman memengaruhi proses ini,” ungkapnya.
Selanjutnya, prinsip pemupukan berimbang seperti tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara, dan tepat sasaran harus diterapkan karena pemupukan yang berlebihan juga dapat menjadi masalah utama dalam pencucian unsur hara.
“Aplikasi pemupukan yang tepat ini akan mencegah pupuk hilang karena air hujan mencucinya,” sambung Rosmala.
Namun demikian, Rosmala menjelaskan metode pemupukan yang dapat digunakan saat musim penghujan. Pemupukan harus dilakukan dengan cara disemprot atau ditugal. Setelah pupuk ditugal (dibenamkan dalam lubang berakaran tanaman), tanah harus ditutup kembali.
“Untuk menghindari kondisi tanah yang semakin lembab, hindari memberikan pupuk dengan cara dikosor. Selain itu, memberikan pupuk secara ditabur di sekitar tanaman juga meningkatkan risiko pupuk yang terbuang dan tercuci ke lingkungan,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa karena air hujan mengandung banyak unsur nitrogen, dosis pupuk nitrogen harus dikurangi selama musim hujan. Namun, untuk mendorong pembungaan, pupuk fosfor dan kalium tetap diperlukan.
Sifat asam air hujan membuat pupuk kalsium atau dolomit diperlukan untuk meningkatkan pH tanah. Pupuk kalsium digunakan dengan cara disemprotkan, sedangkan kapur dolomit digunakan dengan cara ditaburkan ke tanah di sekitar tanaman dan kemudian dipendam.
“Petani kelapa sawit harus mempertimbangkan kapan dan jenis pupuk apa yang harus diberikan kepada tanaman kelapa sawit,” pungkasnya.








