https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Warga Enggano ini ‘Ogah’ Bergantung pada Minyak Sawit, BI Dukung Produksi Minyak Kelapa

Warga Enggano ini ‘Ogah’ Bergantung pada Minyak Sawit, BI Dukung Produksi Minyak Kelapa

Zakaria Kauno, produksi minyak kelapa, foto : Dok Kabar Sawit

Bengkulu, kabarsawit.com – Zakaria Kauno, seorang warga yang berasal dari Desa Meok, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu tidak ingin bergantung pada minyak kelapa sawit. Karena itu ia berhasil mengoptimalkan potensi kelapa dan menghasilkan hingga 7 ton minyak kelapa per bulan.

Zakaria mengatakan bahwa kesuksesannya dalam produksi minyak kelapa bergantung pada tingginya permintaan minyak goreng masyarakat. Dia mengatakan karena minyak goreng yang dibutuhkan masyarakat terus dibawa dari luar Pulau Enggano, dia harus membuat minyak kelapa sendiri.

“Pulau Enggano permintaan minyak gorengnya tinggi, tapi pasokannya sedikit. Jadi saya lihat ada ribuan kelapa di pulau ini, itu potensi luar biasa, dan akhirnya saya mengelolanya untuk diproduksi menjadi minyak kelapa,” Zakaria bercerita awal mulanya mengoptimalkan kelapa, kemarin.

Saat ini, Zakaria hanya mampu menghasilkan minyak kelapa siap jual sebanyak 200 liter per hari atau 7 ton per bulan, melalui UMKM yang dikelolanya.

Dikemas dalam botol higienis, minyak kelapa ini dijual dengan harga Rp 20.000 per liter. Karena keterbatasan produksi, permintaan dari luar pulau seperti Bengkulu, Medan, dan Jawa Timur tidak dapat terpenuhi. Ini terjadi meskipun harganya sedikit mahal dibandingkan dengan harga minyak goreng yang tersedia di pasar.

“Produksi kami hanya 200 liter per hari dan hanya dijual di dalam pulau. Ada juga pesanan dari luar pulau seperti Bengkulu, Medan, dan Jawa Timur. Tapi kami belum bisa memenuhi permintaan pasar karena keterbatasan produksi kami,” jelasnya.

Pada awalnya, Zakaria hanya mengolah kelapa menjadi kopra untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan minyak goreng.

Bank Indonesia pun tertarik pada keahliannya dalam mengubah kopra menjadi minyak goreng dan Virgin Coconut Oil (VCO). Melalui bantuan modal sekitar Rp 35 juta beberapa tahun lalu dari BI Bengkulu, Zakaria dapat meningkatkan produksi dengan membangun rumah produksi dan mendapatkan sedikit peralatan. Saat ini, Zakaria telah sudah memiliki 9 pekerja.

“Beberapa tahun lalu, kami dibantu BI Bengkulu dengan modal Rp 35 juta. Modal itu saya gunakan untuk membangun rumah produksi dan beberapa peralatan, sehingga produksi meningkat, dan saya sekarang memiliki 9 karyawan,” jelasnya.

Zakaria ingin mengoptimalkan potensi kelapa Pulau Enggano untuk olahan lanjutan, tetapi ia membutuhkan dana sekitar Rp 150 juta untuk melakukannya.

Ia percaya bahwa dengan modal tersebut, ia dapat memproduksi minyak kelapa sebanyak mungkin dan memenuhi permintaan dari luar pulau.

“Kami dapat memaksimalkan produksi minyak kelapa serta memenuhi permintaan dari luar pulau dengan modal tambahan sebesar Rp 150 juta,” terangnya.

Kisah keberhasilan Zakaria di Pulau Enggano menginspirasi UMKM dan warga desa sekitarnya untuk menggunakan potensi daerah mereka sebaik mungkin. Dengan bantuan dan pendampingan dari pihak terkait, potensi alam Indonesia diharapkan dapat lebih dioptimalkan untuk kemajuan ekonomi penduduk lokal.