https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

KUD Sawit Subur Sukses PSR, Sekarang Bermitra dengan Asian Agri

KUD Sawit Subur Sukses PSR, Sekarang Bermitra dengan Asian Agri

Penandatanganan PKS program PSR KUD Sawit Subur, foto : ist

Tangerang, kabarsawit.com - Koperasi Unit Desa (KUD) Sawit Subur menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) untuk program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan Bank Mandiri sebagai lembaga penyalur dana PSR. Acara ini diselenggarakan pada hari Rabu (30) di sebuah hotel di Tangerang, Banten.

KUD Sawit Subur merupakan mitra dari PT Asian Agri, perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Dengan ditandatanganinya PKS ini, KUD Sawit Subur secara resmi mendapatkan pembiayaan PSR kedua dari BPDPKS.

Sebelumnya pada tahun 2018, KUD Sawit Subur menerima dana PSR untuk lahan seluas 492 hektar. Dan pada tahun 2023, dana PSR dialokasikan untuk peremajaan kebun seluas 144 hektar.

"Kami akan memanfaatkan dana ini untuk memastikan perkebunan kelapa sawit anggota kami berkembang dengan baik. Kunci keberhasilan adalah mengembangkan perkebunan kelapa sawit dengan mitra yang tepat untuk mencapai perkebunan skala kecil yang berkualitas,” jelas Ketua KUD Sawitu Subur Bambang Haji Sutjipto dalam keterangan pers yang diperoleh kabarsawit.com kemarin

Bambang juga menjelaskan bahwa mereka bermitra dengan Asian Agri sejak pertama kali menerima dana PSR dari BPDPKS. Kemitraan ini membuktikan bahwa kinerja KUD Sawit Subur berada di atas rata-rata dan mendapat apresiasi dari Kementerian Pertanian.

"Kemitraan dengan Asian Agri dalam mendapatkan pendanaan BPDPKS di tahun 2018 telah membuahkan hasil yang menguntungkan. Kebun kami yang dikembangkan oleh Asian Agri mendapat penghargaan dari Menteri Pertanian Republik Indonesia pada tanggal 27 Februari 2023 sebagai kebun terproduktif di TBM-3," jelasnya.

“Di TBM-3, dari segi usia, tanaman biasanya tidak menghasilkan panen yang maksimal, atau istilah sederhananya, buah pasir. Namun di tangan Asian Agri, produksi TBS di kebun TBM-3 di atas rata-rata. Jadi kami yakin bahwa kami dapat mencapai kesuksesan yang sama dengan bekerja sama dengan Asian Agri. Kami sangat senang dengan kerja sama dengan Asian Agri," tambahnya.

Sunari, Direktur Penghimpun Dana BPDPKS, memuji kinerja KUD Sawit Subur. "Melalui penandatanganan PKS antara 3 lembaga tahap XII ini, diharapkan lembaga-lembaga tersebut dapat memanfaatkan dana yang diberikan dengan baik untuk menciptakan perkebunan yang berkelanjutan dan berkualitas bagi para petani,” ucapnya memberi pesan.

Ia juga menjelaskan bahwa PSR merupakan program strategis nasional bagi petani kecil untuk meningkatkan perkebunan kelapa sawit mereka menjadi perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan dan berkualitas. Salah satu KUD yang didanai oleh BPDPKS adalah KUD Sawit Subur.

Selain itu, Rudi Rismanto, Head of Partnerships Asian Agri, mengatakan bahwa kemitraan merupakan salah satu tujuan dari program keberlanjutan Asian Agri 2030 dan perusahaan terus melakukan berbagai upaya untuk memperkuat kemitraan dengan para petani.

"Kemitraan dengan petani merupakan bagian dari strategi bisnis kami dan merupakan salah satu tujuan utama dari program pembangunan berkelanjutan Asian Agri 2030. Untuk itu, perusahaan terus memperkuat kemitraan dengan petani melalui pendampingan dan pelatihan teknik budidaya kelapa sawit, serta peremajaan kebun kelapa sawit milik petani," jelasnya.

“Kami sangat senang dan bersyukur bahwa kemitraan kami dengan KUD Sawit Subur telah berhasil membangun kebun kelapa sawit petani yang berkualitas pada tahap pertama. Hal ini dibuktikan dengan penghargaan yang diterima dari Kementerian Pertanian. Kami juga siap untuk melaksanakan pengembangan perkebunan kelapa sawit tahap kedua di KUD Sawit Subur," lanjutnya.

Pada tahap II, perkebunan kelapa sawit KUD Sawit Subur yang merupakan mitra PSR terdiri dari 144 hektar yang dimiliki oleh 58 petani di Desa Kampong Baru, Kecamatan Ukui. Sebelumnya pada tahun 2019, perkebunan Tahap I telah dibangun di atas lahan seluas 538 hektar milik 269 petani.