Daerah ini Terkenal dengan Sawitnya, Tapi Penduduknya Masih Miskin
Ilustrasi TBS Sawit, foto : Dok Kabar Sawit
Bengkulu, kabarsawit.com - Provinsi Bengkulu dikenal sebagai provinsi yang kaya akan perkebunan kelapa sawit, namun sisi lain mengatakan bahwa Bengkulu masih menghadapi masalah kemiskinan yang serius.
Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu untuk semester pertama tahun 2023, Provinsi Bengkulu berada di peringkat ketujuh di antara provinsi termiskin di Indonesia.
Menurut Win Rizal, Kepala BPS Provinsi Bengkulu, sektor kelapa sawit memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian daerah, namun hanya sebagian kecil masyarakat yang merasakan dampaknya. Selebihnya masih banyak yang berstatus miskin.
Kemarin Win mengatakan "Provinsi Bengkulu angka kemiskinannya 14,43 persen, angka ini sangat tinggi dari total penduduk Bengkulu yaitu 291.79 jiwa,” terangnya.
Bengkulu bukanlah satu-satunya provinsi di Indonesia yang memiliki masalah kemiskinan. Masih banyak penduduk miskin di Indonesia, termasuk di provinsi Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, Gorontalo, Aceh, dan yang pasti Bengkulu.
Melihat fakta yang serius ini, pemerintah harus berperan agar ekonomi masyarakat semakin baik. Seperti melakukan peningkatan terhadap pendidikan, lapangan pekerjaan dan pengembangan ekonomi lokal.
“Kami melihat perlunya peningkatan akses pendidikan, lapangan pekerjaan dan pengembangan ekonomi lokal untuk mengurangi kemiskinan yang masih melanda sebagian besar masyarakat Bengkulu,” tuturnya.
Sementara itu, menurut Prof Kamaludin dari Pengamat Ekonomi Universitas Bengkulu, tingkat kemiskinan di wilayah kota Provinsi Bengkulu lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan.
Hal ini menunjukkan bahwa masalah kemiskinan di wilayah Bengkulu bukan cuma sebatas pertanian saja, tetapi juga masalah perkotaan yang perlu mendapat perhatian.
"Sepertinya memang ada masalah di daerah kota, soalnya kalau di desa proporsi penduduk miskinnya lebih tinggi, mungkin karena kelapa sawit kurang menggigit. Tapi ini masalahnya miskinnya lebih tinggi di perkotaan, berarti ada ketimpangan pendapatan," tutur Kamarudin.








