PSR Menurun dalam 5 Tahun Terakhir, Gapki Minta Semua Pihak Kerjasama
Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, foto : Dok kabar sawit
Kampar, kabarsawit.com - Eddy Martono, Ketua Umum Gapki, menjelaskan bahwa perkebunan kelapa sawit di Indonesia mengalami stagnan dalam lima tahun terakhir. Bahkan, mengalami penurunan.
Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong percepatan peremajaan kelapa sawit untuk meningkatkan produksi di perkebunan kelapa sawit yang sudah tua dan kurang produktif.
“Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) merupakan program unggulan Gapki. Selain untuk membantu petani, program ini juga sebagai langkah untuk meningkatkan produktivitas dan produksi perkebunan kelapa sawit di seluruh Indonesia," ujar Eddy dalam acara penanaman perdana PSR di Desa Kijang Makmur, Kampar, Senin (18/9).
Ia mengatakan bahwa meskipun situasi stagnan, konsumsi justru meningkat pada tahun 2022. Jika pada tahun sebelumnya konsumsi hanya 8 juta ton, maka tahun lalu meningkat menjadi 21 juta ton. Pertumbuhan ini diproyeksikan akan terus berlanjut pada tahun ini.
“Makanya, program PSR sangat penting dan Gapki berkomitmen untuk menjadi mitra pemerintah dalam mendukung program ini,” tuturnya.
Eddy menjelaskan, industri kelapa sawit memiliki peran yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia, yaitu sebagai sumber pendapatan bagi 17 juta rumah tangga dan salah satu sumber devisa negara.
Namun, ia tidak memungkiri ada banyak tantangan yang mempengaruhi efisiensi perkebunan kelapa sawit ini. Misalnya, tumpang tindih lahan, perkebunan di kawasan hutan, persyaratan 20 persen dari masyarakat, dan kendala lahan yang sempit. Belum selarasnya peraturan antar kementerian juga menghambat laju pembangunan perkebunan kelapa sawit.
“Jadi kami berharap dengan semua pihak bekerja sama supaya masalah ini dapat teratasi,” harapnya.








