PKS Diminta Ciptakan Produk Baru Selain CPO
Pabrik kelapa sawit di Bengkulu, foto : ist
Bengkulu, kabarsawit.com - Pabrik kelapa sawit (PKS) di Bengkulu harus mampu menciptakan produk baru yang berbeda dari minyak sawit mentah (CPO). Hal ini dapat dicapai melalui inovasi dalam industri.
Arnop Wardin, Wakil Ketua Kadin Bengkulu, mengatakan bahwa pabrik-pabrik pengolahan kelapa sawit di Bengkulu sejauh ini masih terbatas pada produksi CPO. Padahal ada banyak produk yang dapat dihasilkan dari kelapa sawit.
“Pabrik kelapa sawit harus berinovasi untuk menghasilkan produk lain yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi daerah. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah berkolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi yang ada di Bengkulu," ujar Arnop, Jumat (29/9).
Melihat potensi penelitian di sana, kerja sama dengan universitas adalah pilihan yang cerdas. Penelitian kelapa sawit dan CPO telah lama dilakukan di Universitas Bengkulu.
“Universitas ini punya banyak penemuan berharga yang dapat diaplikasikan untuk mengembangkan produk baru yang berdaya saing tinggi," lanjutnya.
Terkait hal ini, Prof Dr Ir Agus Susatya, seorang pakar pertanian di Universitas Bengkulu, mengatakan bahwa ada banyak penelitian yang dilakukan di universitas, salah satunya di Universitas Bengkulu.
"Ada penelitian yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Kolaborasi dengan pabrik kelapa sawit akan membantu kami untuk menerapkan pengetahuan dan teknologi terbaru untuk menciptakan produk kelapa sawit yang inovatif," ujar Agus.
Kolaborasi antara pabrik kelapa sawit dan universitas juga dilihat sebagai peluang investasi bagi sektor swasta. Hal ini akan membantu meningkatkan ekonomi lokal dan menciptakan lapangan kerja baru.
Namun, tidak boleh dilupakan bahwa inovasi-inovasi ini juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.
Firmansyah, Ketua LSM Lingkungan Bengkulu, mengingatkan inovasi harus sejalan dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.
"Inovasi harus sejalan dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Lingkungan tidak bisa dikorbankan demi pembangunan industri,” tukasnya.
Makanya, kerja sama yang dilakukan harus peka terhadap lingkungan dan dilakukan secara bijaksana.








