Kompor Berbahan Bakar Limbah Sawit Ini Punya Potensi untuk Dikembangkan Lebih Jauh
Yunita Triana memaparkan kompor KOBRA. foto: ist.
Samarinda, kabarsawit.com - Kompor KOBRA
bukan sekadar alat masak biasa, melainkan representasi perubahan paradigma energi dari limbah menjadi berkah, dari tandan kosong sawit menjadi nyala api yang lestari.
KOBRA, akronim dari Kompor Berbasis Biobriket Alternatif, lahir dari kolaborasi tiga pilar riset: Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Yayasan Mitra Hijau (YMH). Teknologi ini dirancang untuk memanfaatkan limbah biomassa kelapa sawit, khususnya tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai bahan bakar utama.
“Limbah TKKS nasional bisa mencapai 17 juta ton per tahun, dan di Kalimantan Timur sendiri, potensi limbah ini bisa mencapai 10–15 ton per hektare per tahun. Ini harta terpendam,” ujar Yunita Triana, Ketua Tim Riset KOBRA, saat diseminasi program di Samarinda baru-baru ini.
Keunggulan KOBRA bukan hanya terletak pada bahan bakarnya. Kompor ini juga dibekali Thermoelectric Generator (TEG), perangkat yang mengubah panas menjadi listrik untuk menyalakan kipas otomatis di dalam tungku. Hasilnya? Api lebih stabil, nyala lebih besar, dan tanpa repot mengipas secara manual.
“Dengan teknologi ini, pengguna bisa menghemat hingga 437 kWh per tahun, sementara biaya produksinya hanya sekitar Rp350 ribu,” jelas Yunita.
Tak hanya efisien dan hemat, KOBRA juga punya potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh. Tim peneliti tengah mengkaji penambahan panel surya sebagai sumber energi tambahan menjadikannya solusi mandiri dan ramah iklim yang sesungguhnya.
Ketua Dewan Pembina YMH, Dicky Edwin, menyebut bahwa Indonesia punya potensi energi biomassa hingga 57 gigawatt, namun baru dimanfaatkan sekitar 2 GW hingga 2022. KOBRA adalah jawaban atas ketimpangan itu membuka jalan menuju energi terbarukan berbasis komunitas.
Dengan suhu global terus memecahkan rekor panas dan lebih dari 5.400 bencana tercatat sepanjang 2023 akibat perubahan iklim, teknologi seperti KOBRA tak hanya relevan, tetapi mendesak. Api yang menyala dari tandan kosong kini membawa harapan yaitu energi bersih, murah, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.








