https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Industri Sawit Menempatkan Mahathir Bukan Sekadar Tokoh Politik, tapi juga Simbol Ketahanan dan Keberanian

Industri Sawit Menempatkan Mahathir   Bukan Sekadar Tokoh Politik, tapi juga Simbol Ketahanan dan Keberanian

Tun Dr. Mahathir Mohamad. Foto: realita.co

Jakarta, kabarsawit.com – Jangan dibayangkan Tun Dr. Mahathir Mohamad, mantan Perdana Menteri (PM)  Malaysia,
hanya duduk manis menikmati masa tua ketika usianya genap satu abad pada Kamis (10/7)  lalu.

Mahathir tetap aktif, kritis, dan konsisten menyuarakan isu-isu global yang menyangkut kehormatan dan kepentingan negara-negara Asia, terutama dalam membela industri kelapa sawit.

Mahathir sudah lama dikenal sebagai tokoh yang konsisten menentang segala bentuk diskriminasi terhadap sawit, terutama dari negara-negara barat. Ia menjadi salah satu suara terdepan dalam mengkritik kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR), yang dianggap merugikan Malaysia dan Indonesia sebagai eksportir utama sawit dunia.

“EUDR adalah bentuk baru dari kolonialisme ekonomi. Mereka tidak ingin negara-negara berkembang sukses,” tegas Mahathir dalam salah satu forum internasional.

Mahathir tak sekadar berbicara. Ia juga mendorong lahirnya kerja sama regional dalam bentuk diplomasi sawit ASEAN, khususnya dengan Indonesia. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat posisi negara-negara produsen sawit menghadapi tekanan internasional. Ia yakin, jika negara-negara Barat bisa bersatu lewat Uni Eropa, maka Asia Tenggara pun bisa bersatu lewat sawit.

“Kita tidak boleh bergantung pada mereka yang ingin kita gagal. Sawit adalah milik kita, masa depan kita,” ujar Mahathir dalam pidatonya di sebuah forum energi Asia beberapa waktu lalu.

Mahathir tak segan mengkritik pemimpin negara-negara besar. Ia pernah menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai pemicu kekacauan ekonomi dunia, saat kebijakan tarif AS memukul negara berkembang. Sikap tegasnya ini membuat banyak pihak menjulukinya “Soekarno Kecil”, karena keberaniannya menantang dominasi Barat layaknya proklamator Indonesia.

Lahir di Alor Setar, Kedah, pada 10 Juli 1925, Mahathir memulai karier sebagai dokter, lalu bertransformasi menjadi pemimpin politik yang penuh visi. Ia menjabat sebagai PM pertama kali pada 1981–2003, lalu kembali memimpin dari 2018–2020. Bahkan di usia 93 tahun, Mahathir masih mampu memimpin negara, menjadikannya perdana menteri tertua di dunia saat itu.

Bagi industri sawit, Mahathir bukan sekadar tokoh politik, tapi juga simbol ketahanan dan keberanian. Ia dipercaya sebagai pembela petani kecil dan eksportir sawit yang selama ini menjadi korban kampanye negatif dan hambatan dagang terselubung.***