https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Bersyukur Tarif Ekpor ke AS Turun Jadi 19 Persen, Mentan: Ada Celah di Sana untuk Pertanian

Bersyukur Tarif Ekpor ke AS Turun Jadi 19 Persen, Mentan: Ada Celah di Sana untuk Pertanian

Mentan Andi Amran Sulaiman. Foto: agricom.id

Jakarta, kabarsawit.comPerubahan sikap AS yang menurunkan tarif impor untuk produk Indonesia dari 32% menjadi 19%  dinilai sebagai peluang emas oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Ia menegaskan bahwa penurunan tarif tersebut dapat memperkuat posisi ekspor pertanian Indonesia, khususnya kelapa sawit yang selama ini jadi andalan.

“Kita bersyukur karena tarif dari 32% menjadi 19%. Artinya apa? Ada celah di sana untuk pertanian,” ujar Amran dalam sebuah kesempatan Jakarta dua hari lalu.

Dia menyebutkan, pesaing utama Indonesia dalam ekspor CPO ke AS adalah Malaysia, yang justru dikenakan tarif lebih tinggi yakni 25%. Negara lain seperti Thailand bahkan terkena tarif bea masuk AS hingga 36%, dan Vietnam 20–40%.

“Pesaing kita cuma Malaysia, iya kan? Artinya apa? Kita bisa menambah ekspor. Ini menjadi peluang emas bagi pertanian,” tegasnya.

Penurunan tarif ini datang berbarengan dengan tren kenaikan harga CPO dunia, yang diprediksi mencapai USD 1.200 per ton pada akhir 2025. Permintaan global terhadap minyak nabati juga terus meningkat, seiring dengan tren energi berkelanjutan di negara-negara maju.

Dari sisi neraca dagang, meski Indonesia membuka akses lebih besar bagi ekspor produk pertanian AS seperti gandum, Amran menyebut potensi keuntungan tetap berpihak ke dalam negeri. Terlebih, sawit selama ini menyumbang hampir Rp440 triliun terhadap total ekspor nasional dan menyerap jutaan tenaga kerja di sektor hulu hingga hilir.

Pemerintah pun masih membuka ruang negosiasi lebih lanjut agar tarif produk andalan seperti CPO, nikel, kopi, dan kakao bisa ditekan hingga 0%.

Singkatnya, turunnya tarif ekspor CPO dari AS adalah momen penting bagi Indonesia untuk memperkuat perannya di pasar global. Bukan hanya soal nilai ekspor, tapi tentang masa depan pertanian yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan.***