https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Banyak Aspek Penting yang Harus Dipertimbangkan dalam Hal Pemupukan Sawit Secara Efisien

Banyak Aspek Penting yang Harus Dipertimbangkan dalam Hal Pemupukan Sawit Secara Efisien

Ilustrasi pemupukan sawit. Foto: Dok. Elaeis

Jakarta, kabarsawit.com – Data dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian, menunjukkan pemupukan kelapa sawit yang efisien harus mempertimbangkan berbagai aspek penting.

Mulai dari hasil analisis hara pada daun dan tanah, karakter fisik dan kimia tanah, curah hujan, umur tanaman, hingga data produktivitas dan pemupukan tahun-tahun sebelumnya. Semua itu jadi dasar penentuan jenis dan dosis pupuk yang digunakan.

Penetapan dosis pemupukan juga mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian No. 131/Permentan/OT.140/12/2013. Secara teknis, pada fase awal tanam, diberikan pupuk rock phosphat (RP) sebanyak 500 gram per pohon di lubang tanam. Selanjutnya, dosis dan jenis pupuk disesuaikan dengan umur tanaman.

Misalnya, tanaman umur 3 bulan diberi 100 gram urea, 100 gram TSP, 100 gram MOP, dan 50 gram kiserit. Dosis ini meningkat bertahap hingga tanaman berumur 32 bulan, yang membutuhkan 550 gram urea, 300 gram TSP, 700 gram MOP, dan 400 gram kiserit.

Pada tanaman menghasilkan, rekomendasi BRMP membagi pemupukan berdasarkan kelompok umur. Untuk umur 3–8 tahun, per pohon diberikan 2 kg urea, 1,5 kg SP-36, 1,5 kg MOP, dan 1 kg kiserit. Sedangkan untuk tanaman usia 9–13 tahun, dosis meningkat menjadi 2,5 kg urea, 2,25 kg SP-36, 2,25 kg MOP, dan 1,5 kg kiserit.

Frekuensi pemupukan sawit disarankan dua hingga tiga kali setahun, tergantung kondisi iklim. Pemupukan pertama ideal dilakukan antara Februari–Maret, dan pemupukan kedua pada September–Oktober.

Kondisi curah hujan yang optimal berkisar antara 100–200 mm per bulan, karena curah hujan tinggi dapat menyebabkan pencucian pupuk yang merugikan.

Untuk efektivitas, BRMP menyarankan pemupukan dilakukan secara terpisah, tidak dicampur sekaligus. Urutannya dimulai dari RP atau dolomit, lalu urea, MOP, dan kiserit. Pemupukan juga harus rampung dalam waktu kurang dari dua bulan setiap siklus.

Dengan pendekatan presisi berbasis data dan kondisi lapangan, jurus jitu pemupukan dari BRMP Kementan ini diharapkan bisa mendorong produktivitas kelapa sawit secara berkelanjutan, khususnya di wilayah dengan karakteristik tanah mineral.***