https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Pesaing Minyak Makan Merah Mulai Muncul di Bengkulu

Pesaing Minyak Makan Merah Mulai Muncul di Bengkulu

Deretan olahan minyak goreng berbahan kelapa dan Kacang Inca.

Bengkulu, kabarsawit.com - Minyak kacang sacha inchi sepertinya menjadi bayang-bayang bagi minyak makan merah.

Sebab, dengan kandungan omega 3 setara dua porsi ikan salmo dalam setiap 500 miligram, membuat pelaku UMKM di Bengkulu mulai memproduksinya.

Yulias Suparti misalnya. Pelaku UMKM dari Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu yang berfokus pada produk nabati ini mulai mengembangkan minyak berlabel Sacha Inchi Oil tersebut.

Ia mengaku minyak berbahan baku kacang sacha inchi atau inca ini lebih kaya manfaat dan gizi ketimbang minyak makan merah. Selain bisa dijadikan alternatif pengganti minyak goreng sawit, minyak tersebut bisa dijadikan sebagai obat, lulur muka maupun produk perawatan. 

"Kalau banyak yang tahu, pasti ramai-ramai orang membudidayakannya. Ini lebih tinggi khasiatnya daripada minyak makan merah," kata Yulias kepada kabarsawit.com, kemarin.

Bentuk kacang ini menyerupai bintang dengan tekstur kulit yang keras dan berlapis. Namun, di kalangan petani domestik, tanaman yang berasal dari hutan Amazon Peru ini belum begitu populer.  

Yulias mengungkap, di negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand, tanaman dengan nama latin Plukenetia Volubilis ini sebetulny sudah menjadi andalan petani karena punya nilai jual fantastis.

Di pasaran, 1 kilogram biji atau kacang Inca dibanderol Rp20.000 sampai Rp80.000. Sedangkan untuk bibit siap tanam di kisaran Rp 20.000 sampai Rp 50.000 per batang.

"Sementara, untuk kacang Inca yang telah diolah menjadi minyak, nilai jualnya jauh lebih fantastis, di kisaran Rp1 juta. Bahkan, untuk yang kualitas super harga per liternya bisa mencapai Rp 6 juta," terangnya. 

Sejauh ini, budidaya kacang Inca baru dilirik sebagian kecil petani lokal di Jawa. Sedangkan di Bengkulu, hanya Yulias dan beberapa kelompok UMKM saja yang membudidayakan sebagai bahan baku minyak dan lulur perawatan.

"Kalau kami tanam sesuai kebutuhan, karena bibitnya mahal. Sedangkan ketika ada pesanan dan kekurangan bahan, baru kami ambil dari Rembang Jawa Tengah," kata dia.

Selain itu diakuinya, penjualan produk minyak Inca ini sudah mencapai pasar ekspor. Namun karena terbatasnya bahan baku, Yulias memilih memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Untuk itu ke depan, Yulias berharap sudah bisa mengolah kacang Inca menjadi berbagai produk. “Termasuk jadi minyak yang nilai jualnya sangat fantastis,“ pungkasnya.