Petani Sawit Keluhkan Harga Pupuk Rp1 Juta per Sak, Begini Solusi Dinas TPHP Bengkulu
Ilustrasi - pupuk
Bengkulu, kabarsawit.com - Petani kelapa sawit di Provinsi Bengkulu mengeluhkan mahalnya harga pupuk yang mencapai Rp1 juta per sak. Sementara di sisi lain harga TBS sawit justru masih belum stabil.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Helmi Yuliandri menjelaskan, kebijakan mencoret tanaman sawit sebagai salah satu komoditas perkebunan yang tidak diberikan pupuk subsidi merupakan keputusan pemerintah pusat. Tujuannya agar alokasi pupuk bersubsidi hanya untuk tanaman pangan yang berdampak pada inflasi.
"Hanya saja imbasnya justru membuat petani sawit kecil terseok-seok membeli pupuk. Seakan dipaksa bersaing dengan korporasi yang menguasai sumber daya produksi. Kondisi ini membuat produktivitas kelapa sawit justru menurun hingga 50 persen," kata Helmi kepada kabarsawit.com, Sabtu (25/2).
Menurutnya, harga pupuk non subsidi yang mahal sangat memberatkan petani sawit dalam memenuhi kebutuhan input pupuk bagi tanaman. Sehingga pemerintah perlu mencari substitusi sumber subsidi pupuk bagi petani sawit kecil.
"Jika kita melihat kebijakan ini memang harusnya ada jalan lain, mungkin pemerintah daerah bisa mengalokasikan anggaran untuk mensubsidi pupuk dengan APBD. Jadi nanti pemerintah membeli dengan harga normal, sedangkan petan kecil inilah yang bisa membeli dengan harga subsidi," kata Helmi.
Solusi lain, lanjutnya, petani memproduksi pupuk organik ataupun mengintegrasikan perkebunan sawit dengan ternak sapi. "Ini bisa dimanfaatkan agar kotoran sapi bisa menjadi pupuk alami bagi tanaman sawit," pungkasnya.








