Disebut Bukan Pohon, Ahli Merujuk Struktur yang Tidak Dimiliki Tanaman Sawit
Ilustrasi batang sawit. Foto: gokomodo.com
Bogor, kabarsawit.com – Sebuah pertanyaan menarik, yaitu benarkah kelapa sawit bisa disebut sebagai pohon secara ilmiah? Jawabannya menurut ahli: tidak.
Prof. Heri Purnomo, peneliti senior di Pusat Penelitian Kehutanan Nasional (CIFOR-Craft), menegaskan bahwa sawit bukanlah pohon. Dalam dunia botani, pohon didefinisikan sebagai tumbuhan berkayu yang memiliki kambium atau lapisan yang menghasilkan jaringan kayu (xilem) dan pembuluh tapis (floem).
Sementara kelapa sawit tidak memiliki struktur itu. “Kalau kita lihat kelapa sawit, tidak ada kayunya. Jadi secara umum kita sebut tanaman, bukan pohon,” jelas Prof. Heri, Rabu (06/08).
Pembedaan ini bukan sekadar soal istilah. Fungsi ekologis antara pohon hutan dan tanaman sawit sangat berbeda. Hutan tropis dengan pepohonan endemik seperti mahoni atau meranti memiliki peran vital dalam menyimpan karbon dan menjaga biodiversitas.
Hutan alam, menurut Prof. Heri, dapat menyimpan hingga 400 ton karbon per hektare, sedangkan kebun sawit hanya sekitar 40 ton. Dari sisi keanekaragaman hayati pun hutan jauh lebih unggul karena menjadi rumah bagi berbagai spesies flora dan fauna.
Namun demikian, kelapa sawit tetap punya nilai ekonomi yang tinggi. Produk turunan sawit menjadi andalan ekspor Indonesia, dengan nilai mencapai lebih dari Rp 400 triliun per tahun. Dari aspek industri, sawit jelas berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.
Tapi perlu diingat, perluasan kebun sawit sering kali berdampak pada deforestasi dan hilangnya ekosistem alami jika tidak dilakukan secara bijak.
Karena itu, menurut Prof Heri, penting untuk tidak terjebak pada dikotomi tentang sawit atau hutan. Keduanya punya peran masing-masing. Namun dalam konteks krisis iklim dan kerusakan lingkungan, kita perlu berhati-hati.
“Menambah luas perkebunan sawit sebaiknya tidak dilakukan dengan menebangi hutan primer. Upaya perlu difokuskan pada peningkatan produktivitas lahan sawit yang sudah ada dan pemanfaatan lahan kritis, bukan hutan yang masih utuh,” cetusnya.***








