https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

BI Yakin Ekonomi Babel Bakal Tumbuh Positif, Sawit Ikut Jadi Penopang

BI Yakin Ekonomi Babel Bakal Tumbuh Positif,  Sawit Ikut Jadi Penopang

Ilustrasi perkebunan sawit di Babel. Foto: Dok. Elaeis

Pangkalpinang, kabarsawit.com Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) optimistis perekonomian daerah akan terus tumbuh positif meskipun pada triwulan II 2025 pertumbuhan tercatat hanya 4,09 persen year-on-year (yoy) atau sedikit melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 4,60 persen.

Kepala Perwakilan BI Babel Rommy Sariu Tamawiwy mengatakan, tren pemulihan ekonomi tetap solid, dengan dukungan sinergi antara BI, pemerintah daerah, dan mitra strategis. “Bank Indonesia optimistis kinerja ekonomi Bangka Belitung akan terus meningkat. Sinergi menjadi kunci,” sebutnya dalam keterangan resmi, Sabtu (9/8).

Beberapa indikator makro menunjukkan sentimen positif. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2025 tercatat di level 114,0 (zona optimistis), sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mencapai 116,2, mencerminkan ekspektasi positif terhadap penghasilan, peluang usaha, dan lapangan kerja enam bulan ke depan.

Sektor unggulan seperti timah, kelapa sawit (CPO), karet, perikanan, dan pariwisata menjadi penopang utama ekonomi. Ekspor Babel melonjak 27,43 persen (yoy), ditopang permintaan tinggi di pasar internasional untuk timah, CPO, karet, dan hasil perikanan.

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan mencatat pertumbuhan tertinggi 7,83 persen (yoy), dipicu meningkatnya aktivitas smelter timah, pengolahan CPO, karet, dan barang galian bukan logam. Sektor perdagangan tumbuh 6,23 persen, sedangkan informasi dan komunikasi melesat 13,34 persen, terdorong penggunaan internet dan publikasi menjelang pilkada ulang di Pangkalpinang dan Bangka.

“Industri pengolahan menunjukkan ketahanan terhadap permintaan global, terlebih dengan stabilnya harga komoditas utama,” katanya.

Meski mayoritas sektor tumbuh positif, BI mencatat perlambatan pada sektor yang bergantung pada belanja pemerintah akibat efisiensi anggaran dan penyesuaian belanja prioritas, termasuk untuk penyelenggaraan pilkada ulang. Menurut BI, kondisi ini harus diimbangi dengan belanja produktif jangka panjang seperti infrastruktur dan layanan publik strategis.

Ke depan, BI akan menggencarkan program prioritas, di antaranya pengembangan pariwisata berbasis potensi lokal, peningkatan produktivitas pertanian dan perikanan, pemberdayaan UMKM dan koperasi desa, penguatan ekonomi syariah, serta percepatan digitalisasi sistem pembayaran.

“Potensi Babel masih sangat besar. Dengan kerja sama yang kuat, pertumbuhan ekonomi bisa lebih inklusif dan berkelanjutan,” tegasnya.***