https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Ditunggu IPOSC 2025, Ajang yang akan Menghadirkan 10 Produsen Benih Sawit Unggul Nasional

Ditunggu IPOSC 2025, Ajang yang akan Menghadirkan 10 Produsen Benih Sawit Unggul Nasional

Ilustrasi bibit sawit. Foto: Dok. Elaeis

Jakarta, kabarsawit.com – Indonesian Palm Oil Smallholder Conference dan Expo (IPOSC) 2025 dijadwalkan akan berlangsung pada 24–26 September 2025 di salah satu hotel di Kubu Raya, Kalimantan Barat, dengan menghadirkan langsung 10 produsen benih sawit unggul nasional.

Mengapa acara ini begitu penting? Karena selama bertahun-tahun, para pekebun sawit kerap berhadapan dengan persoalan serius: peredaran benih sawit ilegal (ilegitim).

Menurut Direktur Perbenihan Perkebunan Ditjen Perkebunan Kementan, Ebi Rulianti, penjualan benih palsu banyak terjadi di marketplace online. Padahal, dari 21 produsen resmi kecambah sawit, tidak ada satu pun yang menjual produknya lewat jalur tersebut.

“Pembelian kecambah sawit itu ada mekanismenya. Harus dengan SP2BKS (Surat Persetujuan Penyaluran Benih Kelapa Sawit). Sementara penjualan di marketplace jelas tidak punya itu,” tegas Ebi dalam keterangannya dikutip Ahad (24/8).

Masalahnya, peredaran benih palsu bukan main-main. Data menunjukkan, produksi resmi dari 21 produsen benih bisa mencapai 200 juta butir per tahun. Namun, benih ilegal yang beredar sudah menembus 80 juta butir, hampir 40 persen dari pasar. Jika dibiarkan, kerugian yang ditanggung petani bisa membengkak hingga Rp85 miliar.

Untuk menekan peredaran benih palsu, Ditjen Perkebunan menggandeng asosiasi marketplace, Kementerian Perdagangan, serta produsen benih. Gugus tugas khusus pun dibentuk untuk men-take down kata kunci dan tautan terkait penjualan benih sawit ilegal. Tidak berhenti di situ, pemerintah juga meluncurkan aplikasi Babebun agar petani bisa langsung mengecek penangkar resmi yang sudah berizin dan lulus uji kompetensi.

Di sisi lain, Hendra J Purba, Sekjen POPSI (Perkumpulan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia), menilai cara paling efektif menangkal benih ilegitim adalah mendekatkan petani langsung dengan produsen benih. Inilah yang akan diwujudkan lewat IPOSC 2025.

Sejauh ini, sudah ada sepuluh produsen kecambah unggul yang memastikan diri hadir. Mereka adalah PT Bakti Tani Nusantara, PT Dami Mas Sejahtera (Sinar Mas), PT Binasawit Makmur (Sampoerna Agro), PT Tunggal Yunus Estate (Asian Agri), PTPN IV KSO Adolina, PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia, serta PT Socfin Indonesia. 

Masih ada tiga produsen lain yang sedang dalam proses konfirmasi, yaitu PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi (Astra Agro), PPKS Medan, dan PT Tania Selatan dari Wilmar Group. Jika semuanya bergabung, jumlahnya akan semakin mendekati total 21 produsen benih resmi yang ada di Indonesia.

“Kalbar termasuk daerah dengan peredaran benih ilegitim cukup tinggi. Karena itu, IPOSC 2025 ini jadi kesempatan emas bagi petani sawit di Kalbar, Kalimantan, bahkan seluruh Indonesia, untuk memperoleh akses penuh pada sumber benih unggul,” ujar Hendra.

Berdasarkan data Ditjenbun, hingga kini sudah dilepas 84 varietas unggul sawit dengan dukungan 21 produsen resmi. Luas kebun induk mencapai 6.941 hektare, terdiri atas 53.208 pohon induk dura dan 2.012 pohon induk pisifera. Potensi produksi benihnya bisa mencapai 298 juta kecambah per tahun.

Namun, Hendra mengingatkan, semua potensi itu akan sia-sia jika petani masih terjebak menggunakan benih palsu. “Benih memang bukan segalanya, tapi kesuksesan kebun selalu dimulai dari benih. Dengan benih unggul dan kultur teknis yang baik, produktivitas bisa terus dipacu. Tapi kalau benih ilegitim, apapun yang dilakukan, hasil panen tidak akan bisa optimal,” tegasnya.

Karena itu, IPOSC 2025 tidak sekadar menjadi ajang pameran. Lebih dari itu, perhelatan ini diharapkan menjadi momentum besar untuk mempertemukan petani dengan produsen benih secara langsung.***