APMI Sulap Sawit Jadi Superfood
Jakarta, kabarsawit.com - Asosiasi Planters Muda Indonesia (APMI) menyulap kelapa sawit menjadi superfood yang diharapkan bisa menurunkan angka stunting di Indonesia.
Hal ini dilakukan APMI berkolaborasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP), Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Dinas Kesehatan, akademisi, hingga pakar gizi.
Menurut APMI sawit bukan lagi sekadar komoditas ekonomi, melainkan juga sumber pangan bergizi untuk masyarakat.
Produk turunan sawit seperti minyak makan merah, margarin fortifikasi, hingga olahan pangan lokal berbasis sawit kini diposisikan sebagai pangan fungsional. Kandungan vitamin A, E, serta asam lemak esensialnya membuat sawit potensial dijadikan superfood untuk memperbaiki gizi, khususnya pada anak-anak yang rentan stunting.
“Generasi muda sawit harus hadir langsung dalam upaya memperbaiki gizi nasional. Sawit bukan hanya penghasil devisa, tetapi juga sumber pangan bergizi yang mudah diakses masyarakat,” kata Ketua Umum APMI, Muhammad Nur Fadillah, Jumat (29/8).
Indonesia menargetkan angka stunting turun hingga 14% pada 2024–2025, sesuai arahan pemerintah. Inovasi sawit sebagai superfood dinilai mampu mempercepat capaian target tersebut. Selain riset dan pengembangan produk, APMI bersama mitra juga mendorong edukasi, kampanye publik, dan penguatan industri pangan berbasis sawit.
Dengan dukungan generasi muda planters, sawit tidak hanya menyumbang devisa negara, tetapi juga berkontribusi langsung dalam upaya nasional melawan stunting.
“Ini baru awal. Ke depan, kita ingin melihat sawit hadir di meja makan masyarakat dalam bentuk pangan sehat dan bergizi. Sawit harus menjadi kebanggaan Indonesia,” kata Muhammad Nur Fadillah.
Langkah APMI ini juga mendapat dukungan penuh dari berbagai pemangku kepentingan. Ketua Dewan Penasehat APMI, Djono Albar Burhan, menilai gerakan ini adalah bukti bahwa narasi sawit bisa diarahkan pada tujuan lebih mulia.
“APMI memiliki semangat besar yang lahir dari energi generasi muda perkebunan. Dukungan stakeholder hari ini membuktikan bahwa sawit mampu bersinergi dengan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, hingga gerakan sosial demi menyelamatkan generasi dari stunting,” ujarnya.








