https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Begini Cara RI Bikin Dunia Takjub Lihat Industri Sawit

Begini Cara RI Bikin Dunia Takjub Lihat Industri Sawit

Jakarta, kabarsawit.com - Indonesia sedang menyiapkan kelapa sawit sebagai primadona industri . Dalam momentum hilirisasi, perhatian pemerintah terhadap sawit makin serius. 

Tidak hanya sebagai komoditas unggulan, sawit kini masuk ke dalam strategi industrialisasi nasional dan menjadi salah satu prioritas dalam RPJPN 2025–2045.

“Tujuannya jelas yakni memperkuat ekosistem industri, meningkatkan kapasitas produksi, dan meningkatkan daya saing global,” ujar Hedi M. Idris, Perencana Ahli Utama Bappenas, kemarin.

Hedi mengatakan, Indonesia juga menargetkan status net exporter, membawa sawit Indonesia mendunia. Namun, jalan menuju ekspor global tidak mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah tumpang tindih kawasan perkebunan. 

Dari total luas 16,3 juta hektar, sekitar 3,2 juta hektar berada di kawasan hutan, dan hanya 300 ribu hektar yang sudah memiliki Hak Guna Usaha (HGU). Sisanya masih memerlukan penertiban dan regulasi yang jelas.

Belum lagi data pekebun yang belum sepenuhnya terintegrasi. Saat ini, sekitar 71,1% perawatan sawit belum tercatat, sehingga program satu data Indonesia masih perlu diperkuat. 

Lewat Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), pemerintah berharap pekebun terdata dengan rapi, memudahkan perencanaan, monitoring, dan akses fasilitas pemerintah, seperti distribusi bibit dan program peremajaan sawit rakyat.

Strategi pemerintah untuk membawa sawit Indonesia mendunia tidak berhenti di perkebunan. Hilirisasi menjadi kunci, dari produk antara hingga produk akhir yang siap diekspor. 

Sejak 2018 hingga 2021, pemerintah menyiapkan dasar kebijakan sebagai fondasi pengembangan industri. Setelah itu, penguatan ekosistem industrialisasi dilakukan melalui riset, pembiayaan, standardisasi, dan skema insentif yang mendukung industri agar lebih kompetitif. 

Selanjutnya, kapasitas produksi ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sekaligus memperkuat daya saing global melalui pengembangan SDM, optimalisasi energi, dan penataan rantai pasok yang efisien. 

Sepanjang proses ini, keberlanjutan dan traceability menjadi syarat utama, memastikan industri sawit tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga memiliki nilai tinggi di pasar internasional.

Produktivitas sawit rakyat menjadi perhatian utama. Dari total 16,3 juta hektare perkebunan nasional, 6,54 juta hektare adalah sawit rakyat. 

Potensi peremajaan mencapai 2,8 juta hektare, termasuk plasma dan swadaya. Dengan benih unggul, pohon tua yang tidak produktif bisa diganti, menjamin pasokan bahan baku berkualitas untuk industri hilir.

“Kalau on-farm kuat, hilirisasi akan optimal. Dari situ, kita bisa bicara nilai tambah dan daya saing global,” kata Hedi M. Idris.

Dengan strategi matang, Indonesia menata fondasi kuat, menertibkan kawasan, memperbaiki data pekebun, memperkuat hilirisasi, dan melakukan peremajaan sawit rakyat. 

Semua langkah ini diarahkan agar produk sawit tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tapi siap menjadi unggulan ekspor dunia.