https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Gara-gara Domba

Gara-gara Domba

Mukhlis bersama domba-dombanya. foto: aziz

Dari lahannya yang seluas 6 hektar. Mukhlis bisa mengantongi duit Rp5 jutaan per minggu. 

Asal teringat dengan omongan orang kepadanya pada tahun 2007 silam, tawa Mukhlis Pohan langsung meledak. Alasannya saat itu, orang bilang pensiunan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan wilayah Provinsi Aceh itu bodoh karena membeli tanah dengan harga mahal. 

"Waktu itu saya membeli tanah ini Rp15 juta sehektar. Sementara pasaran Rp5 juta. Itulah makanya Disebut orang saya bodoh," lelaki 63 tahun ini tertawa saat berbincang dengan Elaeis Media Group (EMG) di teras rumahnya, Selasa pekan lalu. 

Waktu itu kenang ayah 5 anak ini, tempat dia tinggal sekarang masih sepi, masih hutan meski berada di jalan poros lintas Subulussalam-Banda Aceh dan jalan itu telah aspal.

"Waktu itu saya diam saja. Kalau dipikir-pikir memang kemahalan. Namun kalau saya kalkulasi lagi, 10 tahun kemudian tanah di sini akan mahal, dan kalkulasi saya itu benar," katanya.  

Semula Mukhlis membeli tanah kosong di Gampong Tanggabesi, Kecamatan Simpang Kiri seluas 4 hektar. 

Setahun kemudian tanah itu ditanami kelapa sawit. Namun karena tidak ada Mukhlis yang mengelola secara langsung, pertumbuhan dan hasil kebun sawit tidak mencukupi. 

Sudahlah begitu, setelah dia pensiun, harga sawitpun anjlok; hanya Rp600 per kilogram. Sementara upah panen saja sudah Rp250 per kilogram. Nggak bisa kayak gini terus, batinnya. 

Takut situasi harga sawit akan seperti itu terus; mudah naik dan mudah pula anjlok, kakek 8 cucu ini kemudian memutuskan untuk mengurangi luas kebun sawit itu menjadi dua hektar saja.

Dua hektar sawit yang ditebangi itu, sebagian ditanami dengan pisang dan kemudian ditukar menjadi kelapa hibrida, sisannya jadi organisasi. 

Dua hektar lagi tanah yang dia beli pada tahun 2016, ditanami jeruk nipis. “Sekarang, saya punya kebun sawit dua hektar, tanaman jeruk nipis dua hektar dan kelapa hibrida 300 batang,” lelaki ini mengerutkan kening. 

Dari tiga jenis tanaman yang menghampar di belakang rumahnya itu, Muklis telah bisa mengantongi duit sekitar Rp4-6 juta per minggu. Jumlah yang bisa disebut lebih besar dari gajinya masa jadi pegawai.  

"Dari jeruk Rp1 juta per minggu. Pernah mencapai Rp3 juta per minggu. Namun karena saat ini jeruk dalam perawatan ulang, hasilnya berkurang," terangnya.

Lalu dari kelapa Rp500 ribu perminggu karena dari 300 batang tadi, masih hanya 30 batang yang berproduksi stabil. 

Dari sawit, Mukhlis sudah bisa pula mengantongi duit Rp5 juta per dua minggu. Ini terjadi karena per dua minggu dia bisa mendapatkan 3 ton Tandan Buah Segar (TBS). 

Hasil yang melonjak 100% setelah lima tahun lalu, Mukhlis mulai memelihara domba. Kotoran dan urin domba itu dia jadikan pupuk. 

“Waktu saya baru pensiun, hasil dua hektar sawit itu hanya sekitar 1,5 ton per dua minggu, tapi setelah saya pakai kotoran dan urine domba itu, alhamdulillah hasilnya,” Mukhlis sumringah. 

Dobel Untung Karna Domba
Semula Mukhlis tidak berpikir untuk menjadikan kotoran dan urin domba menjadi pupuk bagi tanaman kebunnya. 

Yang dia pikirkan masa itu, masa dia baru pensiun, bahwa beternak domba di Subulussalam, prospeknya sangat cerah. 

Sebab itu tadi, Subulussalam adalah kota yang bisa dibilang hampir semua umat muslim. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2024 mencapai 96,37%. 

Ini berarti untuk anak-anak yang akikah saja, membutuhkan banyak domba. Belum lagi nanti kalau musim lebaran haji. 

Perkiraan Mukhlis itu benar saja. Setiap bulan, tak kurang dari 5 ekor domba laku terjual. Dari hasil penjualan itu saja Mukhlis bisa mengantongi keuntungan bersih Rp2 juta. 

"Saya melakukan penggemukan di belakang rumah ini. Ada 4 kandang berkapasitas 200 ekor," terangnya sambil mengajak EMG mengitari kandang domba itu.   
   
Di kandang itu, ada sekitar 20 ekor domba jenis Morino dan Dopper. "Biasanya kandang ini penuh. Tapi sebagian sudah terjual. Saya sedang menunggu domba-domba baru untuk digemukkan," katanya. 

Untuk pakan domba itu kata Mukhlis, dia tidak kesulitan. Soalnya daun-daun dan pelepah kelapa sawit hijau yang baru dipangkas, langsung dia olah menjadi pakan. "Saya punya mesin helikopter," ujarnya.  

Seorang ahli yang pernah ditanyai Mukhlis menyebut, pelepah dan daun sawit itu mengandung kalsium tinggi. Bagus untuk pakan ternak. 

Ini pula yang kemudian membikin Mukhlis semangat untuk mengembangkan peternakan domba itu. Sebab itu tadi, di Subulussalam, orang yang beternak domba tidak akan kekurangan pakan karena di Subulussalam banyak kebun sawit. 

“Saya pernah menyampaikan kepada Walikota agar Subulussalam menjadi sentra peternakan domba. Prospeknya cerah. Mudah-mudahan bisa terwujud,” Mukhlis berharap.