https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Komoditas Perkebunan Indonesia Masih Sangat Prospektif, Asal...

Komoditas Perkebunan Indonesia Masih Sangat Prospektif, Asal...

Direktur Bisnis PTPN III (Persero), Ryanto Wisnuardhy. Foto: Ist

Bogor, kabarsawit.com - Direktur Bisnis PTPN III (Persero), Ryanto Wisnuardhy, menekankan bahwa potensi perkebunan di Indonesia masih sangat besar, asal semua pihak mau bekerja sama.

Menurut Ryanto usai acara Outlook Komoditas Perkebunan 2026 di Bogor, Selasa (28/10), kontribusi perkebunan ke devisa negara sangat signifikan. Dari seluruh sektor pertanian, 94 persen devisa justru berasal dari perkebunan. 

“Komoditas perkebunan Indonesia masih sangat prospek,” kata Ryanto.

Namun, tantangannya nyata. Beberapa komoditas seperti karet dan teh sedang tertekan. 

Mayoritas produksi karet, misalnya, berasal dari perkebunan rakyat, sekitar 92 persen, tapi petani kurang mendapatkan dukungan. Teh pun sebagian besar dikelola rakyat, sementara kontribusi PTPN hanya 30-40 persen.

Ryanto menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, petani, hingga pelaku industri hulu-hilir harus terlibat. “Kalau semua stakeholder terlibat, mulai dari hulu sampai hilir, saya yakin ini bisa memperkuat ekonomi nasional,” ujarnya.

Bahkan, dalam Outlook Komoditas Perkebunan 2026, ada enam komoditas utama jadi sorotan yakni kelapa sawit, karet, teh, kopi, kakao, dan tebu. 

Direktur PT RPN, Iman Yani Harahap, menyebut ada tiga kunci untuk memperkuat sektor ini menjelang 2026 antara lain peremajaan tanaman dan penggunaan bibit unggul, pengembangan nilai tambah lewat produk olahan, serta penerapan prinsip keberlanjutan yang ramah lingkungan dan sosial.

Dengan kolaborasi dan inovasi, perkebunan Indonesia diharapkan semakin tangguh dan kompetitif, baik di pasar nasional maupun global. Jadi meski menghadapi tantangan, sektor perkebunan tetap bisa jadi motor utama ekonomi Indonesia, asal semua pihak bersinergi.***