Paganini: Tantangan Utama Sawit Ada pada Persepsi, Bukan Produktivitas
Adjunct Professor Business Administration John Cabot University Rome, Pietro Paganini. Foto: gapki.id
Nusa Dua, kabarsawit.com - Adjunct Professor Business Administration John Cabot University Rome, Pietro Paganini, menegaskan regulasi baru bukan hambatan, melainkan momentum bagi sawit untuk memimpin standar keberlanjutan global.
“Kelapa sawit menghidupi jutaan petani kecil dan mendukung ketahanan pangan. Tantangan utama ada pada persepsi, bukan produktivitas,” ujarnya di IPOC 2025, Bali, Jumat (14/11).
Menurut Paganini, sawit hanya butuh sepersepuluh lahan dibandingkan tanaman minyak nabati lain untuk hasil yang sama, namun citra negatif tetap menghantui.
“Kepercayaan adalah kunci. Transparansi dan edukasi berbasis data kini menjadi senjata utama industri sawit,” ujarnya.
Teknologi digital menjadi tulang punggung strategi ini. Drone dan satelit memantau kebun secara real time, blockchain memastikan rantai pasok bersih dan transparan, sementara AI membantu prediksi produksi dan identifikasi risiko. Semua inovasi ini membuat industri sawit lebih akuntabel di mata dunia.
Paganini juga menyoroti pentingnya fase transisi yang inklusif sebelum EUDR diterapkan penuh. Mekanisme ini mencakup masa uji coba 24 bulan, kebijakan khusus untuk UMKM dan petani kecil, kemitraan publik-swasta, serta pendanaan bersama agar negara produsen siap menghadapi tuntutan baru.
Selain regulasi, peningkatan produktivitas tanpa perluasan lahan menjadi fokus. Replanting varietas unggul, pemupukan presisi, dan manajemen kebun berbasis IoT dinilai langkah strategis untuk mencegah deforestasi sekaligus menjaga keberlanjutan jangka panjang.
Gelombang kampanye palm-oil-free yang bias di pasar global juga harus dilawan dengan diplomasi berbasis sains. “Tanpa data, persepsi akan terus didikte kampanye yang tidak objektif,” tegas Paganini.
Dengan kombinasi inovasi, transparansi, dan pendekatan inklusif, industri sawit Indonesia punya peluang besar menjadi pemimpin global dalam keberlanjutan. Bukan hanya mengikuti standar dunia, tapi menetapkan standar baru yang adil bagi petani dan lingkungan.***








