https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

5 Petani Jadi Korban Penembakan, Apkasindo: Kita Tidak Mentolerir Aksi Premanisme di Bengkulu

5 Petani Jadi Korban Penembakan, Apkasindo: Kita Tidak Mentolerir Aksi Premanisme di Bengkulu

Sekretaris Apkasindo Bengkulu, Jon Simamora. Foto: Dok Elaeis

Bengkulu, kabarsawit.com - "Kami sangat kecewa atas tindakan yang dilakukan oleh oknum sekuriti PT Agro Bengkulu Selatan (ABS) itu. Ini sudah menyalahi prosedur dalam pengamanan."

Demikian dikatakan Sekretaris Apkasindo Bengkulu, Jon Simamora Selasa (25/11), menyikapi konflik antara PT Agro Bengkulu Selatan (ABS) dan masyarakat, yang menyebabkan lima petani mengalami luka tembak yang dilakukan oleh oknum sekuriti perusahaan itu.

Menurut Jon, penggunaan senjata api itu sudah melanggar aturan. Pihak pengamanan seharusnya tidak menggunakan senjata api untuk mengamankan lahan perusahaan. 

"Yang berhak menggunakan senjata api itu pihak Polri dan TNI itu pun harus mematuhi aturan ketat. Artinya tidak bisa sembarangan menggunakan, harus ada izin dan protap yang jelas," cetusnya.

Kata Jon tindakan ini sudah mengarah pada premanisme dan pelanggaran. Untuk itu pihaknya meminta pihak kepolisian mengusut tuntas tas aksi koboi tersebut.

"Bukan hanya pada oknumnya, polisi juga harus menindak perusahaan yang membiarkan tim pengamanannya menggunakan senjata api di lingkungan perusahaan," sambungnya.

"Kita tidak mentolerir aksi premanisme di Bengkulu. Perusahaan ini sudah gak jelas, seperti menyiapkan preman untuk menghadapi petani," imbuhnya geram.

Kelima petani yang menjadi korban aksi penembakan itu adalah Linsurman, Susanto, Edi Hermanto, Suhardin, dan Buyung yang merupakan warga Desa Kembang Seri, Kecamatan Pino Raya, Kabupaten Bengkulu Selatan. Peristiwa itu sendiri terjadi pada Senin (24/11/) kemarin.

Aksi penembakan berawal saat masyarakat menolak adanya aktifitas pemerataan lahan menggunakan alat berat terhadap tanaman milik petani. Konflik antara perusahaan kelapa sawit dan masyarakat itu sendiri terjadi sudah cukup lama.***
.