https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Petani Sawit di Merga Sakti 'Bekawan' dengan Gajah

Petani Sawit di Merga Sakti

Seekor gajah di PLG Seblat.

Bengkulu, kabarsawit.com - Petani kelapa sawit di Desa Suka Baru, Kecamatan Marga Sakti, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu menjadikan pelepah sawit sebagai pakan gajah.

Hewan besar yang berada di Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebelat itu tidak perlu berkeliling mencari makan setiap harinya. Sebab, selain rumput dan bungkil, pelepah sawit yang menjadi pakanan pokok kedua bagi gajah diberikan oleh petani.

Setiap pagi dan sore hari, sekawanan gajah memang rutin meminta makan pelapah sawit kepada pemilik maupun yang dengan sengaja sudah diletakkan oleh pemilik kebun. Pemukiman warga yang paling dekat dengan kawasan gajah ini adalah Desa Suka Baru.

M Toha, salah satu warga mengatakan, sawit dan gajah menjadi salah satu rantai alam yang menguntungkan. Petani mendapatkan dua keuntungan ketika puluhan gajah di wilayah konservasi berkeliling mencari makan.

"Kotorannya bisa menjadi pupuk alami yang dapat mendorong produktifitas sawit. Selain itu, pelepah yang habis masa panen tak perlu lagi repot-repot dibersihkan, sudah ada gajah-gajah ini yang rutin menunggui kami memanen," kata dia, kemarin.

Toha menganggap gajah-gajah itu merupakan berkah, selain dapat menjadi rekan dalam rantai alam, gajah juga turut menjaga wilayahnya dari ancaman hewan liar lain.

"Misalnya saja pohon sawit yang masih kecil, setelah kami tanam itu yang menjaga Gajah. Juga TBS yang sudah kami panen biasanya tidak langsung kami angkut, dan dengan adanya Gajah membuat hewan seperti babi tidak berani ke wilayah kami," ujarnya.

Meski begitu, dari 50 estimasi gajah yang tersebar, sebagian adalah gajah yang masih liar, sehingga tak sedikit petani yang waspada. Ketika habitatnya terganggu, maka akan berdampak buruk bagi perkebunan.

"Namun sampai sekarang belum ada satu kasus gajah merusak kebun sawit milik petani. Jika pun tak izin mematahkan pelepah yang belum dipanen, itu langsung ditegur oleh Konservatornya," ujar Toha.

Kendati begitu, menurut Kepala Resort PLG Seblat, Mustadin, keharmonisan gajah dengan petani sawit ini mulai terganggu dengan aktifitas pertambangan. Bahkan untuk terus mempertahankan habitat gajah Sumatera di kawasan Bentang Seblat main sulit karena berhadapan dengan kepentingan perusahaan besar.

Ia berharap ada upaya perlindungan dari pemerintah daerah dengan tidak melepas kawasan konservasi dan hutan habitat gajah-gajah ini menjadi kawasan pertambangan, industri maupun hutan produksi demi kelestarian ekosistem dan habitat Gajah Sumatera itu sendiri.

"Gajah dengan masyarakat setempat sudah harmonis. Makan dari itu kita mengajak seluruh pihak bersama-sama melindungi habitat dan masa depan gajah. Saat ini tantangannya semakin sulit, pihak lain banyak yang berkepentingan namun bertentangan dengan keselamatan gajah," kata Mustadin.