https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Merasa Terusir dari Tanahnya Sendiri, Suku Sakai Mengadu ke LAM Riau

Merasa Terusir dari Tanahnya Sendiri, Suku Sakai Mengadu ke LAM Riau

Bentrokan antra masyarakat dan PT SIS. Foto: Ist

Pekanbaru, kabarsawit.com - Sejumlah masyarakat Suku Sakai mendatangi gedung  Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau di Pekanbaru, Kamis (4/12), mengadukan bentrokan yang terjadi antara masyarakat dengan sejumlah oknum yang diduga merupakan bayaran sebuah korporasi di Duri, Bengkalis.

Masalah ini berawal dari disitanya kebun milik sebuah korporasi oleh Satgas PKH seluas 5.000 hektar di wilayah Duri itu. Lahan berada dalam kawasan hutan dan di wilayah lahan ulayat Batin Sebanga Sakai, Duri, Bengkalis. 

Lahan tersebut kemudian diserahkan ke PT Agrinas, yang kemudian bekerjasama dengan PT Palma Agung Bertuah. Oleh perusahaan tersebut, masyarakat kemudian dirangkul untuk ikut mengelola lahan. Namun masyarakat justru mendapatkan perlawanan dari sejumlah orang yang diduga kuat dari pihak korporasi.

"Mereka menolak kehadiran kita. Ada oknum yang bermana Aliong dari PT SIS itu justru yang melakukan pemanenan hingga nyaris terjadi bentrokan dengan masyarakat kami," ujar Herman, salah satu perwakilan Suku Sakai tadi.

Dengan perlakuan itu, Herman mengaku pihaknya seperti diusir dari tanahnya sendiri. Padahal lahan itu adalah tanah ulayat.

Saat menyambut kedatangan masyarakat Suku Sakai tersebut, Ketua Umum DPH LAMR, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, menyatakan pihaknya akan melakukan komunikasi dengan pihak PT SIS.

Ia juga mengarahkan agar masyarakat melaporkan dugaan ancaman dan tindak pidana lainnya ke pihak kepolisian

"Untuk sementara laporkan tindak pidana yang ada dulu ke pihak kepolisian. Kita harus saling menahan diri agar tetap kondusif," ujarnya.

Tanggapan itu langsung dijawab oleh 
Bathin Bertuah, Nasir yang mengatakan bahwa pihaknya telah melaporkan kejadian tersebut. Namun sampai saat ini belum ada tanggapan dari aparat berwajib.

"Petugas kepolisian sempat berupaya menengahi perselisihan antara masyarakat, perusahaan, dan Agrinas, tetapi belum menemukan titik penyelesaian. Bahkan Aliong dan orang-orangnya mendatangi warga, merusak mobil saya. Sembilan orang luka ringan dan satu harus diopname,” katanya.***