https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

UB Berhasil Kembangkan Teknologi Bioetanol yang Memanfaatkan Biomassa Lignoselulosa dari Limbah Agroindustri

UB Berhasil Kembangkan Teknologi Bioetanol yang Memanfaatkan Biomassa Lignoselulosa dari Limbah Agroindustri

Jakarta, kabarsawit.com – Berkat riset inovatif dari Universitas Brawijaya (UB), limbah kelapa sawit yang selama ini dianggap “sampah” kini punya nilai baru.

Prof. Agustin Krisna Wardani, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), mengembangkan teknologi bioetanol generasi kedua yang memanfaatkan biomassa lignoselulosa dari limbah agroindustri, khususnya industri kelapa sawit.

Menurut Prof. Agustin, Indonesia punya potensi besar untuk energi terbarukan karena ketersediaan biomassa yang melimpah. 

"Bioetanol generasi kedua ini penting karena menggunakan bahan baku non-pangan dan membantu sistem energi terbarukan yang berkelanjutan,” ujarnya saat ditemui di laboratorium UB, Selasa (13/1).

Selama ini limbah kelapa sawit seperti tandan kosong, serabut, dan kulit sawit sering berakhir sebagai pupuk atau dibakar, yang sayangnya menimbulkan emisi karbon. 

Dengan riset ini, biomassa lignoselulosa bisa diubah menjadi bioetanol berkualitas tinggi, membuka peluang bioekonomi sirkular yang menguntungkan.

“Intinya, kita ubah limbah bernilai rendah menjadi energi bernilai tinggi. Ini nggak cuma menguatkan ketahanan energi, tapi juga ramah lingkungan,” kata Prof. Agustin.

Riset UB ini memanfaatkan teknologi modern seperti rekayasa mikroba berbasis genome editing, optimasi enzim lignoselulolitik, dan integrasi proses fermentasi yang efisien. 

Hasilnya, gula kompleks dari biomassa sawit dapat diubah maksimal menjadi bioetanol, tanpa mengganggu pasokan pangan.

“Bioetanol generasi pertama masih pakai bahan pangan, jadi terbatas. Dengan generasi kedua, kita pakai limbah, efisien, ekonomis, dan lebih ramah lingkungan,” jelasnya.

Menariknya, riset ini mendapat hibah perdana dari Jepang lewat program Research and Development for Promoting Innovative Energy and Environmental Technologies Through International Collaboration (RDIC) yang dibiayai NEDO. 

UB menjadi universitas pertama di Indonesia yang lolos pendanaan ini, bekerja sama dengan Setsuro Tech Inc. dan Tokushima University yang ahli dalam teknologi CRISPR/Cas dan bioindustri.

Kolaborasi ini bukan hanya soal penelitian laboratorium. UB menargetkan luaran berupa publikasi internasional, paten, prototipe bioetanol siap hilirisasi, hingga peningkatan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT). 

Dengan begitu, riset ini juga membuka peluang kerja sama dengan industri agro-energi dan pemerintah, sekaligus memperkuat reputasi UB sebagai pusat riset bioteknologi berbasis sumber daya hayati. 

Secara konseptual, riset ini menjadi model bioekonomi sirkular. Limbah sawit yang tadinya merugikan lingkungan kini bisa jadi produk energi bernilai tinggi, menurunkan emisi karbon, dan menciptakan peluang hilirisasi industri bioteknologi.

“Riset ini juga relevan dengan kebijakan nasional soal bauran energi baru dan terbarukan, sekaligus jadi contoh riset yang aplikatif dan berdaya saing,” tegas Prof. Agustin.***