Industri Pariwisata di Bali Komitmen Gunakan Produk Sawit Berkelanjutan
Ilustrasi-TBS kelapa sawit.
Jakarta, kabarsawit.com - Pemerintah Provinsi Bali akan terus berkomitmen menjadikan daerah itu sebagai destinasi pariwisata unggulan di Indonesia yang berwawasan lingkungan dan sosial.
Bahkan, untuk menjaga komitmen itu pemerintah daerah akan menggunakan produk-produk sawit berkelanjutan.
Pernyataan itu tercetus dalam Musyawarah Cabang (Muscab) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badan Pengurus Cabang (BPC) Kabupaten Badung, Bali, kemarin.
PHRI Bali akan bekerjasama dengan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dalam mendorong pelaku industri pariwisata di Bali, khususnya hotel dan restoran, secara bertahap akan menggunakan produk-produk turunan sawit yang diproduksi dengan cara yang bertanggung jawab dan lestari.
Apalagi industri hotel dan restoran di Bali selama ini telah banyak menggunakan produk berbahan baku sawit seperti minyak goreng, margarin, sabun, sampo, pasta gigi, produk SPA, parfum dan lilin.
Untuk mewujudkan Bali sebagai tujuan wisata ramah lingkungan, PHRI dan RSPO juga akan menjalankan serangkaian kegiatan bersama di antaranya peningkatan kapasitas dan kesadartahuan anggota PHRI Bali dan pemangku kepentingan terkait mengenai kelapa sawit berkelanjutan, penggunaan produk sawit berkelanjutan bersertifikat RSPO, dan promosi anggota PHRI Bali yang telah menggunakan produk-produk sawit berkelanjutan.
RSPO Deputy Director Market Transformation Indonesia, Mahatma Windrawan Inantha mengatakan, pihaknya sangat menyambut baik komitmen PHRI Bali yang diyakini akan semakin menguatkan posisi Bali sebagai destinasi pariwisata unggulan berbasis ekologi (eco-tourism), tidak hanya di Indonesia namun di tingkat dunia dengan menggunakan produk sawit berkelanjutan oleh para anggotanya.
"Perusahaan-perusahaan anggota RSPO, termasuk yang berdomisili di pulau Jawa dan Bali, menyatakan siap mendukung hal ini sebagai salah satu strategi menjaga keberlangsungan industri pariwisata yang menjadi tulang punggung perekonomian terkhsus di Provinsi Bali," kata Mahatma melalui siaran pers yang diterima kabarsawit.com, Rabu (16/3).
Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati juga tidak menampik bahwa Bali ingin dikenal sebagai tujuan wisata ramah lingkungan di mata wisatawan domestik dan dunia.
“Ini sejalan dengan kearifan lokal Bali yang dikenal sebagai filosofi Tri Hita Karana yang menjunjung tinggi keseimbangan hubungan antar sesama manusia, dan juga manusia dengan lingkungannya," kata dia.
Menurutnya, Bali sudah mulai mewujudkan hal itu dengan pengurangan pemakaian plastik sekali pakai sejak tahun 2019, dan penggunaan produk sawit berkelanjutan merupakan agenda selanjutnya agar selaras dengan rencana aksi daerah tujuan pembangunan erkelanjutan Provinsi Bali di masa depan.
"Kerja sama kami yang lebih erat dengan RSPO merupakan langkah strategis yang dilakukan untuk mewujudkan Bali sebagai pionir destinasi wisata berkelanjutan di dunia dalam penggunaan produk sawit ramah lingkungan," ujarnya.
Sementara General Manager PT Bali Soap, Mahendra juga mengaku pentingnya mengedepankan aspek-aspek keberlanjutan sebagai keunggulan daya saing pariwisata di Bali.
Apalagi, lanjutnya, di pasar saat ini sudah banyak perusahaan yang membikin produk berbahan sawit.
"Hal itulah kemudian menjadi salah satu faktor perusahaan kami berhasil melalui masa sulit saat pandemi Covid-19 lalu. Karena produk kami yang tersertifikasi RSPO berhasil menembus pasar luar negeri melalui marketplace daring," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Branch Manager PT Budi Jaya Amenities, Ronald Harmanto bahwa produk dengan label RSPO di kemasan akan membantu industri hotel dan restoran agar tetap relevan dengan konsumen yang mementingkan aspek keberlanjutan dalam pola konsumsinya.
Maria Satiaputri, Direktur PT SPA Faktori Bali juga meyakini bahwa aspek keberlanjutan merupakan salah satu pilar bisnis yang juga sebagai tanggung jawab perusahaan untuk nerkontribusi positif bagi manusia dan lingkungan.
"PHRI adalah sebuah organisasi yang berorientasikan pembangunan dan peningkatan kepariwisataan, dan ikut membangun ekonomi nasional serta wadah pemersatu dalam memperjuangkan dan menciptakan iklim usaha yang menyangkut harkat dan martabat pengusaha yang bergerak dalam bidang jasa pariwisata perhotelan, dan jasa makanan dan minuman serta lembaga pendidikan pariwisata," terang Maria.
Maria juga mengaku bahwa produk berbahan baku sawit selama ini sangat mudah dijumpai di perhotelan di Bali. Ini terlihat pada penggunaan minyak goreng dan margarin dalam proses pembuatan makanan di restoran. Sementara sabun, sampo, maupun pasta gigi yang disediakan tiap hotel juga menggunakan produk sawit sebagai bahan baku utama.
"Transisi menuju penggunaan bahan baku berbasis sawit berkelanjutan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi Provinsi Bali, dan juga sebagai pionir dalam penggunaan produk sawit berkelanjutan di industri pariwisata yang memprioritaskan kelestarian lingkungan dalam praktik bisnis," pungkasnya.



