https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Musuh Utama Perkebunan Sawit Ini Ternyata Menyimpan Potensi Besar

Musuh Utama Perkebunan Sawit Ini Ternyata Menyimpan Potensi Besar

Gulma di tanaman sawit. Foto: iposs.co.id

Lamandau, kabarsawit.com – Gulma yang selama ini dianggap sebagai musuh utama di perkebunan kelapa sawit ternyata menyimpan potensi besar. 

Tanaman liar yang biasanya dibersihkan karena mengganggu pertumbuhan sawit kini berhasil disulap menjadi bahan baku kertas ramah lingkungan oleh tim dosen Politeknik Lamandau, Kalimantan Tengah.

Melalui inovasi teknologi, para peneliti berhasil mengembangkan metode pengolahan gulma menjadi pulp dan kertas. 

Tidak hanya itu, mereka juga menciptakan mesin pengolah sendiri yang mampu mengubah tanaman pengganggu tersebut menjadi produk bernilai ekonomi.

Inovasi ini menjadi terobosan karena memanfaatkan sumber daya yang selama ini kurang diperhatikan. Alih-alih menjadi limbah perkebunan, gulma justru dapat diolah menjadi bahan alternatif untuk industri kertas.

Ketua Tim Peneliti Politeknik Lamandau, Ika Fitriana Dyah Ratnasai, mengatakan pihaknya menemukan sejumlah jenis gulma yang memiliki kandungan lignoselulosa. 

Kandungan tersebut menjadi salah satu komponen penting dalam pembuatan pulp atau bubur kertas.

Tim gabungan dari Program Studi Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan dan Program Studi Teknologi Produksi Ternak itu meneliti sekitar 12 jenis gulma berdaun lebar yang banyak ditemukan di kawasan perkebunan sawit.

Beberapa jenis gulma yang diuji antara lain Asystasia gangetica, Mikania micrantha, Melastoma malabathricum, Mimosa pudica, dan Scleria sumatrensis.

“Kesimpulannya, semua gulma dapat digunakan lalu dicampur atau dikompositkan,” ujar Ika.
Menurutnya, setiap jenis gulma memiliki karakter serat yang berbeda, sehingga dapat dikombinasikan untuk menghasilkan kualitas pulp yang lebih baik.

Dalam proses pengolahan, tim menggunakan mesin WAW-25 Pulp Machine yang dirancang khusus untuk mengolah gulma dan limbah pertanian menjadi bahan pulp. Mesin tersebut bahkan berhasil meraih Juara I Lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah pada 2025.

Proses pembuatan kertas dimulai dengan membersihkan dan mencacah gulma menggunakan mesin. Setelah itu, bahan dikeringkan sebelum masuk ke tahap delignifikasi, yaitu proses memisahkan selulosa dari lignin menggunakan larutan natrium hidroksida (NaOH).

Dari berbagai percobaan yang dilakukan, hasil terbaik diperoleh dengan penggunaan NaOH 10 persen selama 90 menit serta tambahan bubuk talek sebanyak 10 persen dari bobot gulma kering.

Proses tersebut menghasilkan serat yang lebih bersih sehingga mampu membentuk ikatan antarserat yang lebih kuat. Sementara penambahan bubuk talek membantu membuat permukaan kertas menjadi lebih rata dan homogen.

Berdasarkan hasil pengujian, kertas berbahan gulma tersebut memiliki gramatur mencapai 124,1 gram per meter persegi. Sementara kekuatan tarik tertinggi mencapai 7,85 kiloNewton per meter (kN/m) dan ketahanan sobek mencapai 508 miliNewton (mN).

Meski karakteristiknya lebih tebal dibandingkan kertas buku tulis biasa, produk tersebut dinilai sesuai untuk kebutuhan kerajinan tangan atau produk kreatif berbasis ramah lingkungan.

“Kalau untuk kekuatan sobek dan kekuatan tariknya sesuai untuk kertas kerajinan tangan,” kata Ika.

Menariknya, inovasi ini juga mengedepankan konsep minim limbah. Tim peneliti sengaja tidak menggunakan proses pemutihan (bleaching) agar tidak menghasilkan limbah kimia tambahan.

Akibatnya, kertas yang dihasilkan tetap mempertahankan warna alami kecokelatan dari serat gulma.

Tidak berhenti sampai di sana, limbah cair hasil proses delignifikasi atau air lindi hitam juga dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik cair. 

Cairan tersebut dinilai berpotensi membantu meningkatkan aktivitas mikroba tanah, memperbaiki struktur tanah, serta mendukung pertumbuhan tanaman.

Melalui inovasi ini, gulma yang sebelumnya menjadi masalah di kebun sawit kini memiliki peluang baru sebagai bahan baku bernilai tambah. 

Selain membantu pengendalian gulma, teknologi tersebut juga membuka jalan bagi pemanfaatan limbah perkebunan menjadi produk yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.***