Regenerasi Petani Bagian Penting dari Masa Depan Sawit Indonesia
Pengamat Sawit DPP Apkasindo, Dermawan Harry Oetomo. Foto: Dok Elaeis
Jakarta, kabarsawit.com – Industri sawit Indonesia mulai menghadapi tantangan baru. Bukan hanya soal produktivitas kebun, tetapi juga siapa yang akan meneruskan pengelolaannya.
Generasi Z atau Gen Z kini didorong menjadi generasi baru petani sawit yang menguasai teknologi dan mampu membawa perkebunan rakyat ke level yang lebih modern.
Pengamat Sawit DPP APKASINDO Dermawan Harry Oetomo mengatakan, regenerasi petani sawit harus dipersiapkan sejak sekarang.
Menurutnya, Gen Z di sentra perkebunan memiliki posisi strategis untuk menentukan masa depan industri sawit nasional.
"Sudah saatnya generasi penerus milenial sawit sebagai pilar utama untuk menghadapi tantangan dan tuntutan menuju pada kesejahteraan dan kemakmuran rakyat di sentra sawit pedesaan Indonesia," kata Dermawan, Selasa (18/7).
Ia menilai Gen Z memiliki keunggulan karena tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital. Kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pengelolaan kebun sawit, mulai dari budidaya, mekanisasi, pengelolaan data hingga pemanfaatan berbagai inovasi.
Karena itu, regenerasi petani sawit tidak cukup hanya dilakukan dengan mewariskan kebun dari orang tua kepada anak. Generasi penerus juga harus dibekali pengetahuan, keterampilan dan kompetensi agar mampu menjadi petani profesional.
Salah satu yang didorong adalah pembentukan Petani Sawit Cerdas. Program peningkatan kapasitas tersebut dinilai perlu diberikan secara merata kepada generasi muda di sentra perkebunan sawit.
"SDM untuk mencetak kehadiran Petani Sawit Cerdas di pedesaan tanpa tebang-pilih sehingga tercipta adanya kaderisasi milenial yang berkualitas," ujarnya.
Menurut Dermawan, kemampuan generasi muda dalam beradaptasi dengan teknologi menjadi modal penting menghadapi perubahan industri sawit. Digitalisasi dapat membantu petani meningkatkan efisiensi sekaligus produktivitas kebun.
Gen Z juga dinilai memiliki peluang untuk terlibat lebih luas, bukan hanya di sektor hulu. Mereka dapat mengambil peran dalam pengelolaan kebun, pengembangan usaha, kewirausahaan, hingga industri hilir sawit.
"Anak-anak muda yang bermodalkan kemampuan pengetahuan, keterampilan, perilaku dan kepiawaian sesuai perkembangan inovasi dan transformasi teknologi," katanya.
Kehadiran petani muda yang kompeten juga berkaitan dengan keberlanjutan pasokan bahan baku bagi pabrik kelapa sawit (PKS). Produktivitas perkebunan rakyat perlu dijaga agar mampu memenuhi kebutuhan industri nasional.
Hal tersebut semakin penting seiring agenda pengembangan energi berbasis sawit, termasuk program B50. Pengembangan biodiesel membutuhkan ekosistem sawit yang kuat dan pasokan bahan baku yang berkelanjutan.
Dalam kondisi tersebut, Gen Z tidak lagi cukup dipandang sebagai penerus kepemilikan kebun. Mereka diharapkan menjadi aktor baru yang mampu membawa perkebunan sawit memasuki era digital dan modern.
Kreativitas, penguasaan teknologi dan keberanian berinovasi menjadi modal penting bagi generasi muda untuk meningkatkan daya saing petani sawit.
Dermawan pun mengajak anak muda di kawasan sentra sawit agar tidak meninggalkan sektor perkebunan. Sebaliknya, sawit dapat menjadi ruang bagi Gen Z untuk mengembangkan kemampuan, bisnis, inovasi dan teknologi.
"Ayolah maju terus pantang mundur para generasi penerus milenial sawit sebagai pejuang terdepan," ujarnya.
Ia menegaskan regenerasi petani menjadi bagian penting dari masa depan sawit Indonesia. Jika Gen Z dipersiapkan dengan kompetensi yang memadai, mereka dapat menjadi kekuatan baru dalam menjaga keberlanjutan perkebunan rakyat sekaligus mendorong perkembangan industri sawit dari hulu hingga hilir.
Dengan begitu, masa depan sawit Indonesia bukan cuma bergantung pada luas kebun dan produksi TBS.
Ada satu faktor yang tak kalah penting: siapa generasi yang akan mengelola kebun tersebut. Gen Z kini dipandang sebagai salah satu jawaban untuk memastikan sektor sawit tetap produktif, inovatif dan berdaya saing di masa depan.***








