https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Ditandai 3 Kesepakatan Strategis, POME akan Dikembangkan Menjadi Bio-metanol

Ditandai 3 Kesepakatan Strategis, POME akan Dikembangkan Menjadi Bio-metanol

Jakarta, kabarsawit.com  – Limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) kini tidak lagi hanya dipandang sebagai limbah industri. 

Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) mulai mengembangkan pemanfaatan POME menjadi bio-metanol, bahan bakar rendah emisi yang berpotensi menjadi sumber energi baru sekaligus komoditas bernilai ekonomi tinggi.

Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan tiga kesepakatan strategis bersama perusahaan teknologi asal Singapura CRecTech Pte. Ltd., PT Pertamina Petrochemical Trading (Pertachem), dan Pertamina International Marketing & Distribution Pte. Ltd. (PIMD).

Direktur Utama Pertamina NRE John Anis mengatakan kerja sama tersebut menjadi fondasi pembangunan rantai bisnis bio-metanol yang terintegrasi, mulai dari produksi, pemasaran domestik hingga akses ke pasar global.

“Ini merupakan bukti konkret bahwa kami sedang membangun rantai nilai secara lengkap, mulai dari produksi bersama CRecTech, domestic offtake bersama Pertachem, hingga membuka jalur menuju pasar bahan bakar maritim internasional bersama PIMD,” ujar John.

Salah satu proyek utama yang disiapkan adalah pembangunan fasilitas percontohan biogas-to-bio-methanol di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara. 

Biogas yang berasal dari POME pada PLTBg Sei Mangkei akan dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi bio-metanol. Fasilitas tersebut ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 50 ton bio-metanol per tahun

Teknologi yang digunakan berasal dari CRecTech melalui katalis CRecREF yang memungkinkan proses konversi biogas menjadi metanol hanya dalam dua tahap, lebih sederhana dibanding metode konvensional yang membutuhkan empat tahap. 

Teknologi ini juga diklaim dapat menekan biaya produksi hingga 50 persen. Selain mengembangkan sisi produksi, Pertamina NRE juga menyiapkan pasar bagi bio-metanol.

Bersama Pertachem, perusahaan menjajaki skema penyerapan produk untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang saat ini mencapai hampir 2 juta ton metanol per tahun. 
Sekitar dua pertiga kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor.

Kondisi ini membuka peluang besar bagi bio-metanol berbasis limbah sawit untuk menjadi sumber pasokan alternatif sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor metanol.

Tak hanya pasar domestik, Pertamina NRE juga membidik sektor pelayaran internasional. 
Melalui kerja sama dengan PIMD, perusahaan menjajaki peluang pemasaran bio-metanol sebagai bahan bakar kapal (marine fuel) yang saat ini semakin dibutuhkan dalam upaya menekan emisi karbon di sektor transportasi laut.

Pengembangan bio-metanol juga memiliki manfaat lingkungan. POME mengandung bahan organik tinggi yang menghasilkan gas metana. 
Jika dilepas ke atmosfer, gas tersebut dapat mempercepat pemanasan global. 

Melalui teknologi pengolahan yang dikembangkan, metana dapat ditangkap dan diubah menjadi produk energi bernilai tambah.

Menurut John, pemanfaatan limbah sawit menjadi bio-metanol tidak hanya mendukung ketahanan energi nasional, tetapi juga sejalan dengan target Net Zero Emission Indonesia pada 2060. 

Jika berhasil dikembangkan dalam skala komersial, limbah sawit berpotensi menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang mendukung hilirisasi industri kelapa sawit sekaligus memperkuat ekonomi hijau Indonesia.***