BPDPKS Sepakat Kucurkan Duit Untuk 900 Hektare Kebun Sawit di Babel
Ilustrasi - Kebun Kelapa Sawit. Foto: Dirgantara
Jakarta, kabarsawit.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) sepakat menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) terkait Peremajaan Kelapa Sawit Pekebun (PKSP).
Total 900 hektare lahan perkebunan kelapa sawit di Babel bakal direplanting tahun ini. Kesepakatan itu terjalin tiga hari lalu di Jakarta.
"Target luasan itu telah disepakti BPDPKS melalui perjanjian kerja sama yang ditandatangani di Jakarta Senin kemarin," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Babel, Edi Romdhoni dalam keterangannya dikutip kabarsawit.com, Kamis (23/3).
Edi mengatakan, lokasi lahan kebun yang akan diremajakan tersebar di tiga kabupaten. Terluas di Kabupaten Bangka Selatan 500 hektare, disusul Kabupaten Bangka 300 hektare. Sementara Bangka Tengah mendapat kuota 100 hektare.
“Kenapa Bangka Tengah sedikit, karena Bangka Tengah sudah menyelesaikan PKSP dari tahun 2019, dan sekarang sudah 582 hektare. Sementara yang lain masih di bawah itu. Kalau 100 hektare ini juga tuntas, sudah 682 hektare kebun sawit di Bangka Tengah direplanting,” jelas Edi.
Lebih lanjut Edi menerangkan bahwa program PKSP merupakan salah satu strategi pemerintah unuk meningkatkan produktifitas kelapa sawit melalui peremajaan tanaman. Karena itu Edi mendorong petani untuk memanfaatkan program tersebut dalam rangka meningkatkan produksi.
“Bangka Belitung harus mengambil kesempatan ini biar nanti produktifitas kita tinggi karena Nasional sudah 3,89 ton per hektare. Sementara di Bangka Belitung baru 3,3 ton per hektare. Ini artinya masih bisa kita genjot produksinya. Itu pun kalau dirawat dengan baik,” terangnya.
Edi juga mengatakan, perbankan juga siap membantu pembiayaan perawatan kebun kelapa sawit petani melalui program kredit usaha rakyat (KUR) untuk tahun berikutnya.
“Tapi selesaikan dulu dana dari BPDPKS. Perawatan berikutnya baru dari duit Bank SumselBabel (melalui KUR). Manfaatkan itu. Bunganya rendah cuma 6 persen. Kalau bukan KUR, bunganya 10 hingga 12 persen. Kenapa KUR hanya 6 persen karena sisanya yang 6 persen lagi disubsidi pemerintah,” tandas Edi.








