Habitat Diganggu, Harimau Sumatera Berkeliaran di Pemukiman Warga
Ilustrasi - Harimau Sumatera.
Bengkulu, kabarsawit.com - Harimau Sumatera yang berkeliaran di permukiman warga Desa Lubuk Cabai, Kabupaten Mukomuko akhirnya ditangkap.
Hifzon Zawahiri, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Lampung menerangkan, penangkapan Harimau bernama 'Sinta' ini dilakukan di area perkebunan milik PT Mukomuko Agro Sejahtera.
Sinta berhasil ditangkap setelah masuk perangkap yang dipasang BKDSA pasca keresahan masyarakat atas berkeliarannya di permukiman warga.
BKSDA memasang perangkap dengan umpan ayam hingga ketiga tidak membuahkan hasil lantaran pintu perangkap tidak bekerja baik hingga akhirnya umpan diganti menggunakan kambing.
Pada Rabu (5/4) malam, warga mendengar suara Harimau yang diyakini berhasil masuk perangkap. Mendapati laporan masyarakat, Kamis pagi, tim BKSDA tiba di lokasi melakukan evakuasi terhadap Sinta.
"Setelah kami periksa, Harimau dalam keadaan sehat dan kami evakuasi ke BKSDA untuk dipindahkan," katanya kepada kabarsawit.com, kemarin.
Hifzon menjelaskan masifnya perambahan hutan membuat habitat Harimau Sumatera ini terganggu lantaran rantai makanan yang berkurang.
Apalagi diketahui Sinta memiliki keterbatasan untuk berburu binatang liar akibat kakinya yang cacat. "Untuk bertahan hidup, akhirnya mendekati permukiman warga. Mencari mangsa yang lebih jinak, ayam, kambing atau sapi,’’ papar Hifzon.
Rudiyanto, Asisten Restorasi PT Sipef Biodiversity Indonesia (SBI) menjelaskan, Sinta merupakan Harimau yang masuk dalam pantauannya sejak 2016 lalu.
Harimau yang sering terekam kamera trap sejak 6 tahun lalu ini, sudah tidak mampu berburu binatang liar, karena cacat pada salah satu kakinya.
Alhasil, Sinta terpaksa mendekati pemukiman milik perusahaan, untuk mendapatkan mangsa yang jinak, berupa ternak warga.
"Pertama kali terlihat di kamera tahun 2016 hingga 2022. Saat itu, umur harimau diperkirakan umur 2-3 tahun," kata Rudiyanto.
Ia mengungkap selama terpantau kamera pengawas, Harimau terlihat berjalan sendiri tanpa ada Harimau lain bersamanya. “Harimau ini memiliki ciri khusus salah satu kakinya buntung,” katanya.
Selama bekerja sejak 2013, PT SBI melakukan restorasi hingga mendapati puluhan jerat dan diduga salah satunya menjerat kaki Sinta. ‘’Kami menduga, penyebab kaki buntung karena pernah masuk jerat yang dipasang warga untuk berburu. Kemudian putus, kabur dan berhasil bertahan hidup,’’ ungkapnya.
Dengan kondisi kaki cacat, kemampuan berburu berkurang. Hal tersebut membuat Sinta tidak mampu bersaing untuk mendapatkan makanan di tengah hutan. Apalagi populasi babi hutan juga mengalami penurunan drastis.
"Selama dua tahun terakhir, tidak ada babi hutan yang terpantau kamera. Padahal inilah makanan yang menghidupinya. Karena itulah Sinta memilih mangsa yang lebih mudah dengan cara mendekati permukiman warga ternak, baik ayam, kambing maupun sapi," jelas Rudiyanto.








