Banyaknya Pemain Bikin Penggunaan Bibit Sawit Palsu Tinggi di Indonesia
Ketua DPW APKASINDO Sumut, Gus Dalhari Harahap.
Medan, kabarsawit.com - Berdasarkan penelitian, pembelian bibit abal-abal melalui jejaring media sosial masih cukup tinggi di Indonesia. Malah Forum Kerjasama Produsen Benih Kelapa Sawit Indonesia (FKPB-KS) mencatat, peredaran benih sawit illegal di toko online mencapai 87,563 juta kecambah. Jumlah ini berasal dari penjualan 87.563 pax benih (1 pax= 100 kecambah).
Berdasarkan penelitian itu Provinsi Bandar Lampung menjadi wilayah dengan permintaan terbanyak. Yakni mencapai 80%. Disusul Sumatera Utara 15% dan Sumatera Barat 5%.
Menurut Ketua DPW APKASINDO Sumut, Gus Dalhari Harahap, tingginya penggunaan bibit palsu karena adanya oknum yang mengarahkan petani pada penangkar atau penjual bibit abal-abal turut menambah tingginya persentase pembelian benih ini. Dimana petani diiming-imingi harga murah.
Setelah tergiur harga murah, maka petani akan membeli bibit tersebut meski kualitasnya tidak terjamin. Akhirnya kebun kelapa sawitnya tidak berproduksi maksimal.
"Bisa jadi harga dimurahkan sama oknum yang mengarahkan petani untuk membeli ke penangkar atau penjualan tertentu. Padahal oknum tersebut mendapat keuntungan fee dari penjual," kata dia kepada kabarsawit.com, kemarin.
Gus Dalhari mengaku khawatir kondisi ini terjadi dalam program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang saat ini masih digetolkan pemerintah. Untuk itu ia berharap petani mau lebih teliti dengan mengecek asal muasal bibit yah digunakan.
"Monev kita harapkan dilakukan petani agar dapat meminimalisir kecurangan oknum yang biasanya mengatasnamakan bisa urus PSR sampai pencairan," bebernya.
Apakah hal tersebut sering terjadi?, Gus Dalhari menjelaskan awalnya tidak ada perilaku tersebut, semua berjalan aman dan tertib. Namun belakangan semua justru ingin menjadi pemain. Misalnya saja Timses (Tim Sukses) Bupati, Anggota DPRD semua ingin mengambil peran.
"Semoga petai semakin pintar sehingga terhindar dari praktek nakal ini. Sebab nanti dampaknya akan sangat besar terlebih lagi petani swadaya," tutupnya.








