https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

PKS Sangat Tidak Ramah Lingkungan, Segini Emisi Karbon Yang Dihasilkan. Fantastis!

PKS Sangat Tidak Ramah Lingkungan, Segini Emisi Karbon Yang Dihasilkan. Fantastis!

Aktifitas Pabrik kelapa Sawit milik PT. Perkebunan Nusantara II. foto: dok. PTPN II

Jakarta, kabarsawit.com - Sudah 100 tahun Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan sistem wet process beroperasi di Indonesia. Setelah Belanda memperkenalkan pabrik  semacam itu pertama kali di Itam Ulu Sumatera Utara (Sumut) pada 1922 silam. 

Dan selama itu pula emisi karbon (CO2e) dari PKS, terus berpendar kemana-mana hingga sekarang. Besarannya per ton Crude Palm Oil (CPO) yang dihasilkan PKS tergolong luar biasa. 

Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga menghitung sekitar 1296,1 kilogram CO2e per ton CPO. Emisi ini berpendar saat PKS mengolah Tandan Buah Segar (TBS) menjadi CPO. 
  
Saat TBS diolah menjadi CPO, ada dua macam limbah yang dihasilkan; Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD). Inilah yang kemudian membusuk oleh microba lalu menghasilkan metan. Metan-metan inilah penyebab tingginya kadar CO2e itu. 

"Besaran CO2e itu mencapai 1.046 kilogram per ton CPO. Emisi karbon yang 250,1 kilogram per ton CPO lagi berasal dari tandan kosong (tankos) yang dibusukkan di kebun," magister teknik kimia Institut Teknologi Bandung ini mengurai. 

Munculnya emisi karbon tadi kata ayah tiga anak ini lantaran wet process yang pakai steam (uap) tadi menyebabkan masuknya kondensat ke bawah dan menghasilkan banyak air limbah. 

"Belanda menyodorkan teknologi semacam karena pada 1830-1850-an, ada pandemi di Eropa. Pandemi itu akibat bakteri yang berasal dari negara tropis," Sahat cerita. 

Di satu sisi, Eropa butuh minyak sawit dari negara tropis untuk menggantikan lemak binatang yang selama itu dipakai. Biar aman, minyak itu musti disterilisasi. 

Kalau kemudian omongan Sahat tadi dijadikan rujukan, berarti saban tahun Indonesia menghasilkan lebih dari 600 juta ton emisi karbon dari hasil proses pembuatan CPO.

Soalnya saban tahun Indonesia menghasilkan sekitar 50 juta ton CPO. Saya sudah kasi tahu persoalan ini kepada enginer-enginer pada acara Asean Enginer di Phnom Penh Kamboja 6 Desember lalu. Kebetulan saya presentase di sana," cerita Sahat.    

Sahat bilang kepada mereka bahwa wet process yang pakai steam itu bikin masalah. "Kita pakai Dry Process saja. Tak perlu lagi pakai boiler. Dengan begitu tak juga lagi pabrik harus dekat ke sungai," ujar Sahat. 

Dan kalau masih pakai boiler, kapasitas pabrik harus besar, musti di atas 30 ton per jam supaya penggunaan boiler yang harganya mahal itu efisien. Kalau pakai Dry process, kecil-kecilan bisa. Bisa untuk petani. 

"Kalau pabrik semacam ini sudah ada di tengah petani, ongkos angkut akan murah dan limbahnya sedikit. Dan... emisi yang dihasilkan teknologi semcam ini sangat kecil, hanya 210 kilogram CO2e per ton CPO," katanya.