Kebun Sawit Buka Daerah Terisolir
Dusun Kuro Tidur, Kabupaten Bengkulu Utara. Foto: Dirgantara
Bengkulu, kabarsawit.com - Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Bengkulu Edwar Happy mengatakan pola transmigrasi dan perkebunan kelapa sawit mampu membuka keterisolasian sebuah daerah sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan penduduk setempat sehingga berdampak pada pemekaran wilayah.
"Transmigrasi dan perkebunan sawit merupakan program pemerintah yang sukses dijalankan pada 1980-an. Ini bisa dilihat pada wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dengan Bengkulu Selatan," kata Edwar kepada kabarsawit.com, kemarin.
Edwar menjelaskan, pada tahun 2010, salah satu desa transmigrasi di Bengkulu Utara yakni Desa Marga Sakti Susun Air Kuro adalah hutan antah berantah. Namun setelah masyarakat trans melakukan pembukaan lahan dan bertanam sawit, desa ini jadi lebih cepat terbuka.
"Saat ini sudah dibangun infrastruktur seperti sekolah, pembukaan jalan dan jembatan. Sebab jalur distribusi untuk menjual atau membeli sawit dari masyarakat setempat cukup tinggi dipasok oleh perusahaan PT Sapta Buana," kata Edwar.
Dulu, untuk menuju desa ini masyarakat harus menempuh perjalanan hingga 2,5 jam mengintari Kabupaten Mukomuko. Namun setelah adanya pembukaan jalan yang dibantu perusahaan setempat, akhirnya akses jadi lebih mudah dituju.
Selain itu disebutkan, dari 400 kepala keluarga di daerah ini, sebanyak 40 persen masyarakatnya menggantungkan hidupnya dari berkebun sawit.
Namun sayangnya, keterisolasian masih membuat harga pembelian TBS sawit milik petani masih jauh timpang dari pada di desa dengan aksesibilitas terbuka.
"Karena faktor inilah, di desa itu harga sawit bisa dipotong sampai 30 persen dari ketetapan harga yang diatur pemerintah daerah," kata Edwar.








