'Sekujang', Festival Tolak Bala Petani Sawit Seluma
Sekujang di Kabupaten Seluma.
Bengkulu, kabarsawit.com - Petani sawit asal Desa Talang Benuang Kecamatan Air Periukan Kabupaten Seluma Bengkulu menggelar festival tolak bala 'sekujang', Sabtu (22/4) kemarin. Festival yang dilaksanakan oleh perpaduan masyarakat Muslim dan Hindu ini mengedepan adat serta tradisi nenek moyang demi menjauhkan desa dari paceklik.
Festival yang masuk dalam 'Calendar of Event' dibuka Bupati Seluma Erwin Octavian didampingi Wakil Bupati Seluma Gustianto dan jajaran.
Ketua Panitia Penyelenggara yang juga Kepala BPBD Kabupaten Seluma, Mirin menyampaikan, maksud dan tujuan Festival Sekujang ini untuk melestarikan tradisi dari nenek moyang sekaligus mengundang wisatawan datang ke daerah.
Sekujang merupakan tradisi dan budaya yang selalu digelar setiap tahunnya oleh masyarakat Desa Talang Benuang, pada malam lebaran Idul Fitri yang pertama. Peserta Sekujang akan memakai kostum berbahan ijuk dan daun sawit menyerupai mahluk menyeramkan layaknya Festival Ogoh-Ogoh di Bali.
"Tujuan lainnya untuk menjalin silaturahmi antara pemerintah Kabupaten Seluma dengan masyarakat serta ikut mensukseskan visi misi Bupati dan Wakil Bupati Seluma yaitu Seluma Beragama dan Berbudaya," ujar Mirin.
Dengan demikian, Bupati Seluma mengapresiasi langkah Desa Talang Benuang yang sudah ikut mewujudkan program kegiatan prioritas Bupati dan Wakil Bupati Seluma yang ke-5. "Diadakannya festival Sekujang ini merupakan salah satu cara mewujudkan Seluma beragama dan berbudaya".
"Mudah-mudahan kegiatan seperti ini dapat berjalan di desa-desa lainnya dan marilah kita jaga kelestarian adat istiadat Kabupaten Seluma," ujar Bupati.
Salah satu tetua warga Desa Talang Benuang, Suharman mengatakan, lebaran pertama selalu melaksanakan tradisi ini sembari doa bersama agar tanaman masyarakat tidak terjangkit hama sehingga hasil panen masyarakat melimpah.
”Tradisi sekujang bentuk ritual dan doa bersama supaya tanaman dan hasil panen pertanian masyarakat dusun ini melimpah,” jelas Datuk Suharman.
Lanjutnya, Sekujang juga menceritakan tentang budak bujang yang merantau tapi tidak pernah membawa hasil sepulang dari perantauan. Hasilnya, warga sekitar mencemooh dan hal itu membuat Ia marah serta menghabiskan dengan memakan seluruh hasil pertanian.
Bentuk Sekujang ini pun diibaratkan dengan wujud buruk rupa dan berkembang seperti aneka hantu. Sekujang dengan aneka kostum hantu inilah yang kemudian berkeliling ke rumah-rumah penduduk untuk meminta seserahan pangan.
Penduduk desa yang memberikan kue ke panitia Sekujang dilakukan secara sukarela dan setelah selesai kegiatan akan dilakukan doa bersama di masjid setempat, tradisi Sekujang ini telah dari dahulu dilakukan.








