Usai Lebaran 2023, Petani Sawit di Bengkulu Tengah Menjerit
Ilustrasi - TBS sawit. Foto: Dirgantara
Bengkulu, elaeis.co - Petani kelapa sawit di Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, Sutarto, mengaku sangat terpukul dengan penurunan harga TBS kelapa sawit setelah Idul Fitri 1444 Hijriah.
Tidak hanya berdampak pada pendapatan, turunnya harga TBS juga membuatnya kesulitan membayar angsuran ke bank.
Menurut Sutarto, harga TBS jelang lebaran masih cukup tinggi, mencapai Rp 2.000 per kilogram. Namun, setelah lebaran, harga turun drastis menjadi hanya sekitar Rp 1.250 hingga Rp 1.560 per kilogram.
"Siapa yang tak pusing, apalagi seperti saya yang harus membayar cicilan pinjaman di bank," kata dia, kemarin.
Apa yang dialami Sutarto juga dirasakan ribuan petani sawit lain di kabupaten itu. Menurut Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Bengkulu Tengah, Irsan, sekitar 70 persen petani di daerah tersebut mengalami masalah yang sama.
"Banyak petani yang terpaksa menunggak angsuran karena harga TBS turun," kata dia.
Irsan juga menambahkan bahwa menurunnya harga TBS tidak hanya terjadi di Bengkulu Tengah, tetapi juga di kabupaten tetangga. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya produksi kelapa sawit yang tidak diimbangi dengan kenaikan permintaan. "Terjadi surplus pasokan sehingga membuat harga sawit menurun," sebutnya.
Sementara Pj Bupati Bengkulu Tengah, Heriyandi Roni berjanji akan mengawasi harga TBS kelapa sawit dan akan memastikan PKS membeli sesuai dengan harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin memastikan tidak ada permainan harga TBS yang dilakukan oleh PKS di Bengkulu Tengah," pungkasnya.








