Aspek-PIR Banten Resmi Dilantik, Berikut Program Kerjanya
Pengurus Aspek-PIR Banten resmi dilantik. Ist
Banten, elaeis.co - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Aspek-PIR Provinsi Banten resmi dilantik empat hari lalu. Pengukuhan itu dipimpin langsung oleh Ketua Umum Aspek-PIR, Setiyono.
Usai dikukuhkan, DPD I Aspek-PIR Banten pun membeberkan sejumlah program guna menunjang sektor perkebunan kelapa sawit di daerah itu.
"Kita akan gelar rapat perdana untuk menyusun program. Baik itu untuk jangka panjang maupun jangka pendek. Namun memang sudah ada beberapa catatan yang akan menjadi program kita nanti, " Ujar Ketua DPP I Aspek-PIR Banten, M Nur kepada kabarsawit.com, Minggu (14/5).
Program tersebut antara lain adalah memperjuangkan beasiswa untuk para anak petani. Beasiswa yang digelontorkan dari BPDPKS ini menurut M Nur dapat menjadi langkah untuk pengembangan generasi muda di perkebunan kelapa sawit.
"Harapan kita muncul generasi yang memiliki wawasan dan karakter di perkebunan kelapa sawit. Tentu diharapkan juga memajukan wilayah Banten lewat sektor perkebunan kelapa sawit," paparnya.
Program selanjutnya yakni mengenai kondisi tingginya harga dan langkanya pupuk untuk kelapa sawit. Dimana saat ini petani khususnya di Banten masih megap-megap untuk mendapatkan pupuk guna merawat kebunnya. Selain harganya yang menjulang tinggi, ketersediannya juga kurang.
Sementara rendahnya harga TBS kelapa sawit juga menjadi sorotan Aspek-PIR DPD I Banten. Pasalnya hingga kini harga TBS hanya ditentukan oleh perusahaan kelapa sawit, bukan dari pemerintah.
"Belum ada penetapan, karena belum ada pergubnya. Inilah faktor yang membuat harga sawit di Banten rendah," ujarnya.
Kini harganya hanya Rp1.800-1.900/kg. Ini berlaku untuk semua petani yang ada di Banten, baik itu petani swadaya maupun petani plasma.
"Kalau dari sisi kualitas, hasil kebun kita tidak berbeda dengan kebun perusahaan, baik itu mandiri maupun plasma. Namun karena tidak ada pergub maka tidak ada pula uji rendemen untuk menetapkan harga tadi," cetusnya.
Ia berharap pemerintah melihat kondisi ini. Padahal menurut dia, sangat sedikit kebun yang tergolong tidak produktif lantaran menggunakan bibit tidak bersertifikat.




