Hilirisasi Harus Dilakukan untuk Mendongkrak Harga TBS Sawit
Ilustrasi - truk pengangkut TBS sawit saat melintas di jalanan Kabupaten Siak, Riau. Foto: Sahril
Jakarta, kabarsawit.com - Pengamat pertanian di Provinsi Bengkulu, Prof Zainal Muktamar meminta pemerintah daerah mendorong berdirinya lebih banyak industri hilir kelapa sawit. Sebab menurut diversifikasi produk turunan sawit sangat penting.
"Jika lebih banyak produk turunan yang dihasilkan, selain memberikan nilai tambah, juga akan menyerap bahan baku lebih banyak. Ini tentu akan memberikan dampak positif bagi harga sawit," kata Prof Zainal saat berbincang dengan kabarsawit.com di Bengkulu, kemarin.
Saat ini, kata dia, industri kelapa sawit di Bengkulu masih terfokus pada produksi minyak sawit mentah (CPO). Padahal inovasi teknologi dan permintaan pasar terus berkembang. "Harus dilakukan diversifikasi untuk menjaga pertumbuhan sektor ini," tegasnya.
"Dengan melakukan diversifikasi, nilai produk akan bertambah tinggi. Produk turunan itu seperti minyak goreng, kosmetik, dan biofuel yang ramah lingkungan. Ini akan membuka peluang pasar baru dan meningkatkan daya saing Bengkulu di tingkat nasional maupun internasional," tambahnya.
Dia juga sangat yakin diversifikasi produk sawit dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi industri dan ekonomi Bengkulu. Dengan meningkatnya permintaan akan produk berkelanjutan dan ramah lingkungan, diversifikasi menjadi pintu masuk untuk memenuhi tuntutan pasar yang terus berkembang.
"Diversifikasi dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi industri sawit dan ekonomi Bengkulu," tuturnya.
Saat ini, harga komoditas kelapa sawit mengalami fluktuasi yang signifikan di pasar global. Menurut data terbaru, harga CPO cenderung turun akibat penurunan permintaan dari negara-negara mitra dagang utama.
Dalam menghadapi tantangan ini, diversifikasi kelapa sawit dapat membantu menciptakan nilai tambah yang dapat melindungi petani kelapa sawit dan memperkuat ekonomi lokal.
"Saat ini harga komoditas sawit di Bengkulu antara Rp 1.700 sampai Rp 1.900 per kilogram. Kalau ada diversifikasi maka harganya bisa diatas Rp 3 ribu per kilogram," sebutnya.








