Pahami Dulu, Sebelum Beli Kebun Sawit
Ilustrasi-perkebunan kelapa sawit di Bengkulu. Foto: Dirgantara
Bengkulu, kabarsawit.com - Beberapa bulan terakhir, banyak petani di Bengkulu menjual kebun sawitnya. Rata-rata kebun dijual dengan harga yang cukup kompetitif diatas Rp 100 juta per hektare.
Tetapi banyak dari calon pembeli terkadang tidak memahami risiko dari membeli kebun sawit yang telah menghasilkan tersebut.
Pengamat Pertanian di Bengkulu, Prof Dr Zainal Muktamar mengatakan, sebelum membeli kebun sawit, ada baiknya calon pembeli memahami beberapa risiko yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan investasi, seperti produktivitas kebun dan kualitas bibit yang digunakan.
Sebab membeli tanpa memahami risiko hanya akan merugikan di masa yang akan datang.
"Pahami dulu risiko sebelum membeli kebun sawit yang sudah jadi, apakah produktivitas kebunnya bagus atau tidak, sera apakah kebun tersebut ditanam oleh bibit sawit berkualitas," kata Zainal, kemarin.
Menurut Zainal, calon pembeli harus mampu memastikan kebun sawit yang dibeli masih produktif. Sebab jika kebun sawit yang dijual sudah mencapai usia tidak produktif, maka dapat menyebabkan penurunan hasil yang signifikan dan berdampak negatif pada potensi keuntungan.
"Untuk apa membeli kebun sawit tapi tidak produktif atau banyak pohon sawit tapi hanya sedikit yang berbuah, kan itu hanya merugikan calon pembeli nanti," ujarnya.
Selain masalah produktivitas, Zainal juga mencatat adanya risiko bahwa tanaman sawit yang dijual berasal dari bibit asalan. Bibit asalan adalah bibit yang tidak berkualitas atau tidak berasal dari sumber yang terpercaya. Tanaman sawit dari bibit asalan umumnya memiliki pertumbuhan yang buruk dan rentan terhadap serangan hama serta penyakit, yang berdampak negatif pada hasil panen.
"Pastikan juga sebelum membeli kebun sawit, bibit yang ditanam adalah bibit berkualitas, kalau tidak malah akan membuat rugi saja nanti," tambah Zainal.
Dalam menghadapi risiko-risiko tersebut, Zainal memberikan saran kepada calon pembeli kebun sawit agar memeriksa secara mendalam terhadap kebun sawit yang akan dibeli, termasuk memeriksa riwayat produksi dan kualitas bibit yang digunakan.
"Pemeriksaan ini penting untuk memastikan bahwa kebun sawit yang akan dibeli masih produktif dan menggunakan bibit berkualitas," ujar Zainal.
Selain itu, Ia juga menekankan pentingnya berkonsultasi dengan ahli pertanian sebelum melakukan investasi dalam kebun sawit. Ahli pertanian dapat memberikan panduan yang berharga mengenai pemilihan kebun yang tepat, analisis potensi investasi, dan evaluasi kondisi kebun serta bibit yang akan dibeli.
"Konsultasi dengan ahli pertanian dapat membantu investor membuat keputusan yang lebih baik dan mengurangi risiko kerugian," tutupnya.








