Petani Sawit di Bengkulu Selatan Keluhkan Harga TBS Makin Tak Karuan
Ilustrasi - TBS kelapa sawit. Foto: Dirgantara
Bengkulu, kabarsawit.com - Petani kelapa sawit di Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, menghadapi masalah harga tandan buah segar (TBS) yang terlalu rendah. Dimana harga TBS kelapa sawit ditingkat petani hanya Rp 1.300 per kilogram.
Itu belum bersih didapat petani. Setelah dipotong biaya panen, pendapatan bersih petani hanya sekitar Rp 800 per kilogram.
Salah seorang petani bernama Mustopa mengungkapkan kekecewaannya atas harga TBS ini. Padahal menurutnya seharusnya harga tersebut paling murah Rp 2.000 per kilogram.
Mustopa mengatakan bahwa harga yang terlalu rendah tersebut membuat para petani kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka.
"Alasan tersebut kami sampaikan karena jika harga sawit saat ini di harga Rp 1.300 per Kilogram di tauke belum dipotong upah panen dan upah angkut, sehingga masih sangat terlalu murah. Sebab, petani hanya mendapatkan harga bersih setelah timbang, yaitu di bawah Rp 1.000 per Kilogramnya," keluh Mustopa, Jumat (9/6).
Lebih lanjut, Mustopa menjelaskan bahwa setiap kali panen, petani harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 300 hingga Rp 500 per kilogramnya. Biaya tersebut terdiri dari upah panen sebesar Rp 250 dan upah angkut antara Rp 150 hingga Rp 250, tergantung pada jarak dan medan yang dilalui saat mengangkut TBS ke tempat pengepul.
"Biaya tersebut belum termasuk biaya perawatan kebun, yaitu mencakup harga pupuk saat ini yang masih mahal untuk yang non subsidi, sedangkan untuk pupuk subsidi sendiri walaupun harganya cukup terjangkau. Namun, sangat sulit untuk didapatkan," jelasnya.
Mustopa berharap agar pemerintah daerah dapat memperhatikan masalah harga TBS yang masih berada di bawah Rp 2.000 per kilogram. Menurutnya, biaya pengelolaan dan upah yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh saat ini.
Untuk itu dia berharap agar pemerintah daerah dapat memperjuangkan harga kelapa sawit di atas Rp 2.000 per kilogram untuk membantu petani memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
"Kami berharap pemerintahan daerah dapat memperjuangkan harga kelapa sawit di atas harga Rp 2.000 rupiah per Kilogram. Meskipun panen kelapa sawit dilakukan seminggu 2 kali dengan harga sawit saat ini petani masih sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," harapnya.
Disisi lain, Humas PT Bengkulu Sawit Lestari (BSL) di Kabupaten Bengkulu Selatan, Idius menjelaskan bahwa harga TBS di pabrik saat ini Rp 1.540 per kilogram. Hal ini menunjukkan bahwa harga TBS pada tingkat petani jauh lebih rendah daripada harga di pabrik.
"Masalah ini perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait. Karena kebijakan harga ditingkat petani bukan wewenang kami," tutupnya.








