https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

ITS Kembangkan Kendaraan Amfibi Berbasis AI, Permudah TBS Sawit Sulit Keluar dari Lahan Gambut

ITS Kembangkan Kendaraan Amfibi Berbasis AI,  Permudah TBS Sawit Sulit Keluar dari Lahan Gambut

Jakarta, kabarsawit.com - Pengangkutan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di lahan gambut masih menjadi tantangan besar bagi pekebun. Kondisi tanah yang lunak membuat kendaraan konvensional kerap kesulitan melintas, sehingga proses distribusi hasil panen menjadi kurang efisien. 

Menjawab persoalan tersebut, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan prototipe kendaraan amfibi berbasis Electric Screw Propeller yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Inovasi yang didukung melalui Grant Riset Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) itu dipaparkan Ketua Tim Grant Riset BPDP ITS, Mohammad Khoirul Effendi, dalam sesi Peningkatan Efisiensi Melalui Inovasi Alat Bantu Panen Sawit pada Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISA) 2026 di Jakarta.

Khoirul menjelaskan penelitian tersebut berangkat dari kebutuhan menghadirkan solusi pengangkutan TBS yang lebih efektif di kawasan gambut, yang selama ini menjadi kendala bagi pekebun sawit.

"Inilah yang menjadi pemikiran tim kami, bagaimana membantu petani sawit agar hasil TBS dapat diangkut dengan lebih mudah, khususnya di lahan gambut," ujar Khoirul.

Menurutnya, Indonesia memiliki kawasan gambut yang sangat luas dan sebagian dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit. Namun, karakteristik tanah yang memiliki daya dukung rendah membuat kendaraan pengangkut konvensional sulit beroperasi secara optimal.

Selama ini, berbagai alternatif telah diterapkan di lapangan, mulai dari memanfaatkan kanal, kendaraan hasil modifikasi hingga sistem rel sederhana. Namun, solusi tersebut dinilai masih memiliki keterbatasan dari sisi mobilitas maupun efisiensi operasional.

Melalui riset tersebut, ITS mengembangkan kendaraan berbasis Electric Screw Propeller yang dirancang mampu bergerak di atas tanah lunak sekaligus memiliki kemampuan amfibi sehingga dapat melintasi area berair.

Khoirul mengatakan prototipe tersebut dikembangkan dari nol tanpa menggunakan basis kendaraan yang sudah ada. Tim merancang seluruh sistem, mulai dari rangka, screw propeller, gearbox, motor listrik, sistem kelistrikan hingga bak angkut sebagai satu kesatuan.

Dalam proses pengembangannya, tim melakukan perhitungan kebutuhan daya, kapasitas angkut, konfigurasi motor listrik dan baterai, serta pemodelan tiga dimensi menggunakan perangkat lunak rekayasa. Analisis juga mencakup aspek ergonomi, kekuatan struktur, deformasi hingga simulasi menggunakan metode finite element untuk memperoleh desain yang optimal.

Menariknya, tim peneliti mulai mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) guna membantu mengoptimalkan rancangan kendaraan.

"Pada tahap ini kami mulai mengimplementasikan kecerdasan buatan (AI) untuk mengoptimalkan desain yang telah dikembangkan," kata Khoirul.

Hasil simulasi menunjukkan performa kendaraan dipengaruhi karakteristik lahan gambut, terutama tingkat kerapatan tanah yang berpengaruh terhadap kecepatan pergerakan kendaraan.

Hingga saat ini, tim telah menyelesaikan uji statis untuk mengevaluasi sistem penggerak dan performa awal prototipe. Pengembangan masih terus dilakukan melalui penyempurnaan sejumlah komponen sebelum kendaraan memasuki tahap pengujian lanjutan.

Selain menghasilkan satu unit prototipe, riset tersebut juga melahirkan sejumlah luaran berupa hak atas kekayaan intelektual (HAKI), publikasi ilmiah, serta pengembangan platform komersialisasi inovasi ITS.

Pengembangan Electric Screw Propeller menjadi salah satu inovasi yang dipresentasikan dalam PERISA 2026. Kegiatan yang diselenggarakan BPDP pada 20–21 Juli 2026 itu mengusung tema "Shaping The Palm Oil Industry Ecosystem for a Sustainable Future" dan menjadi ajang diseminasi hasil riset, inovasi, serta pengembangan teknologi untuk mendukung industri kelapa sawit Indonesia yang lebih produktif dan berkelanjutan.***