https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Plampangrejo Sanggau Ledo

Plampangrejo Sanggau Ledo

Maryanto saat berada di tumpukan hasil panen sawit. foto. aziz

Maryanto dijemput kakaknya Maryam dari sekolah di Plampangrejo. Disangka mau jalan-jalan. Rupanya jadi transmigran di Sanggau Ledo. 

Gunung Pasi setinggi 770 meter di atas permukaan laut itu nampak indah dari sela dedaunan kelapa sawit yang tumbuh subur di kebun milik Maryanto di Kelurahan Pangmilang Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang Provinsi Kalimantan Barat, Sabtu dua pekan lalu. 

Kebun seluas 20 hektar yang sejak lima tahun silam sudah menjadi tumpuan hidup keluarganya. Kebun itu dia tanam dua tahap. Tahap pertama seluas 13 hektar di tahun 2010, sisanya lima tahun kemudian. 

“Sekarang, hasilnya sudah sekitar 26 ton perbulan. Alhamdulillah. Itulah sumber hidup kami sejak saya memutuskan berhenti bekerja. Ditambah hasil saya dari kontraktor. Kebetulan saya ada kerjaan juga di sektor perkelapasawitan,” cerita lelaki 52 tahun ini saat berbincang dengan elaeis magazine --- group kabarsawit.com --- di salah satu restoran hotel di Kota Singkawang usai mengunjungi kebunnya itu.   

Tak ujug-ujug Ketua Bidang Industri Kemitraan dan Pemasaran Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPD-Apkasindo) Kota Singkawang ini melepas jabatan terakhirnya sebagai Group Manager di PT. Sampurna Agro Group (SAG). Tapi oleh sederet pertimbangan dan alasan. 

Pertama, Sarjana Agronomi Universitas Tanjungpura Pontianak ini merasa kalau selama ini waktunya terlalu banyak habis untuk pekerjaan. Sebab hampir 20 tahun berkarir di sejumlah perusahaan perkebunan besar, yang dia tahu hanya kerja, kerja dan kerja. Karakternya yang fokus dan displin menjalankan pekerjaan membuatnya nyaris menyandang status workaholic alias penggila kerja.

Kedua, kebun kelapa sawitnya yang di Pangmilang itu, khususnya yang ditanam tahun 2010, sudah menghasilkan. Tapi hasilnya tidak seoptimal yang dia bayangkan lantaran sejak pertama kebun itu ada, tidak dia urus sendiri. 

 

Dua alasan inilah yang kemudian dia jadikan modal ngobrol dengan istrinya Juwita. Intinya, tekad Maryanto sudah bulat mengurus sendiri kebun itu dan berhenti bekerja. Dia meyakinkan istrinya kalau hasil kebun itu akan sama dan bahkan bisa lebih besar dari gaji yang dia terima, jika kebun itu diurus sendiri. Dia juga akan bisa lebih dekat dengan Juwita dan anak-anak. Mendengar penjelasan sang suami, Juwita langsung setuju. 

Apa yang dibilang Maryanto ternyata benar. Setelah General Manager Koperasi Produsen Mitra Apkasindo ini mengurus sendiri kebun itu, hasilnya meningkat. Pesat. Dia juga sudah punya banyak waktu untuk keluarga. Dia telah bisa mendidik dan memantau secara langsung tumbuh kembang anak-anaknya; Eka Rizky Lestari (Tari) dan Andika Dwi Cahyo (Dika). 

Eka sendiri saat ini sedang menyusun skripsi sebagai mahasiswi di Fakultas Farmasi Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak. Sementara adiknya siap-siap untuk kelar dari SMA. “Setelah berhenti bekerja, saya sudah bisa ngajak keluarga jalan-jalan. Saya sering ngajak mereka ngobrol. Cerita tentang perjalanan hidup saya. Saya bilang ke mereka bahwa apa yang kami miliki dan rasakan sekarang, itu enggak tiba-tiba, tapi melalui proses panjang,” ujar. 

"Saya bersyukur sekali bisa melihat tumbuh kembang dan mendidik anak-anak saya. Ini kebahagiaan luar biasa bagi saya. Kalau masih tetap jadi karyawan, enggak akan bisa kayak gini. Sebab jadi pekerja itu harus disiplin. Jam kerjanya ditentukan dan hasil kerja harus terukur. Kalau sekarang, di kebun, di kontraktor, saya bosnya, saya anak buahnya," wajah lelaki ini sumringah. 

 

Tak pernah terbayangkan oleh bekas Ketua OSIS di SMA Kosgoro Singkawang ini kalau kehidupannya bakal bisa seperti sekarang. Masih jelas dalam ingatannya, waktu masih kelas tiga Madrasah Ibtidaiyah Swasta di Desa Plampangrejo Kecamatan Sluring Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur. Dari sekolah milik Nahdlatul Ulama itu, dia dijemput oleh kakak tertuanya, Maryam.

“Ada apa sih kok disuruh pulang. Orang lagi belajar juga?” dalam kagetnya anak keempat dari tujuh bersaudara ini ngedumel dalam bahasa jawa yang kental. 

“Ikut saja, pokoknya Bapak suruh pulang,” Maryam sekenanya menjawab sambil menyeret tangan Maryanto kecil.   

Sampai di rumah, orang tua mereka Musidi dan Sri Ngatini sudah kemas-kemas barang. Bus jemputan juga sudah menunggu di depan rumah. Menegok semua itu Maryanto cuma bisa melongo dan manut saat disuruh naik ke mobil setelah bocah ini berganti baju. Adik-adiknya Maryono, Sarjuni dan Sukirman juga ikut. Sementara kakak-kakaknya Maryam, Marimin dan Maryatun tetap tinggal di kampung itu.   

Setelah ditengok-tengok Maryanto, rupanya bukan cuma keluarganya yang berangkat dari kampung itu, ada 16 kepala keluarga, termasuk tiga kepala keluarga yang masih kerabat dekat orangtuanya. 

Inilah yang membikin Maryanto tidak celingak-celinguk sepanjang perjalanan. Sebab orang-orang yang dia tengok masih orang sekampungnya. Pun saat setelah satu setengah jam perjalan hingga sampai di asrama transit di Banyuwangi, dia tidak merasa kehilangan teman lantaran masing-masing kepala keluarga tadi membawa anak-anaknya juga. 

“Tiga hari kami di asrama itu. Makan ditanggung asrama tiga kali sehari. Dari Banyuwangi kami lanjut perjalanan ke Surabaya naik kereta api. Sama seperti di Banyuwangi, kami diinapkan di asrama. Di sini lebih lama, lima hari,” bekas Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Untan ini mengenang. 

Dari Surabaya, perjalanan lanjut ke Jakarta naik kereta api. “Dua hari kami diinapkan di asrama haji Pondok Gede untuk kemudian diterbangkan ke Pontianak pakai Hercules. Dari Pontianak kami naik bus kecil bermuatan 10 orang dewasa menuju lokasi transmigrasi di Sanggau Ledo Kabupaten Sambas --- kini masuk Kabupaten Bengkayang. Semua barang-barang ditaruh di atap bus. Butuh waktu 8 jam baru sampai. Awalnya saya pikir kami mau jalan-jalan. Ehhh rupanya mau transmigrasi,” bekas Komisariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Tanjungpura ini tertawa.  

 

Setelah sampai di komplek transmigrasi itulah baru Maryanto tahu kalau mereka tinggal di Paket C yang beberapa tahun kemudian berubah menjadi Desa Kamuh. Ada sekitar 350 kepala keluarga tinggal di sana. Masing-masing kepala keluarga mendapat rumah papan berukuran 5x7 meter persegi. Rumah itu dibangun di atas lahan seluas 0,25 hektar. 

Selain lokasi perumahan, masing-masing kepala keluarga juga kebagian lahan usaha seluas 1,75 hektar. Di lahan inilah semua peserta transmigrasi ini bercocok tanam untuk melanjutkan hidup. Ada yang menanam jagung, padi, kacang, dan tanaman hortikultura lainnya. 
    
Lagi-lagi, Maryanto menikmati hidup di permukiman baru itu. Selain punya teman banyak sesama anak transmigrasi, banyaknya ikan di sekitar lokasi transmigrasi itu menjadi mainan baru bagi dia dan anak-anak lain. Kalau tak memancing, mereka menguras. 

Jadi kata Maryanto, kalau dipikir-pikir ikut transmigrasi malah lebih seru ketimbang di kampung. Di lokasi perumahan transmigrasi dekat ke lapangan sepak bola. Terus sering pula menengok pesawat melintas lantaran lokasi transmigrasi tak jauh dari bandara. 

“Kalau di Plampang Rejo nyaris enggak pernah nengok pesawat melintas. Tau sendirilah, waktu kecil, bisa nengok lebih dekat pesawat melintas saja senangnya luar biasa,” lelaki yang senang berorganisasi ini tertawa.