https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

JFX: Indonesia Punya Peluang Besar Membangun Harga Referensi Sawit yang Lebih Kuat

JFX:  Indonesia Punya Peluang Besar Membangun Harga Referensi Sawit yang Lebih Kuat

Direktur Utama Bursa Berjangka Jakarta (JFX), Yazid Kanca Surya. Foto: jpnn.com

Jakarta, kabarsawit.com - Harga minyak sawit yang kerap mengalami perubahan mengikuti dinamika pasar global menjadi tantangan bagi pelaku usaha. 

Untuk menciptakan harga yang lebih transparan dan mencerminkan kondisi pasar sebenarnya, PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) mendorong penguatan mekanisme pembentukan harga atau price discovery sebagai kunci membangun harga referensi komoditas domestik yang kredibel.

JFX menilai harga acuan nasional, khususnya untuk komoditas strategis seperti minyak sawit, harus terbentuk dari aktivitas perdagangan yang nyata, terbuka, dan melibatkan banyak pelaku pasar. 

Dengan begitu, harga yang tercipta tidak hanya menjadi angka acuan, tetapi benar-benar menggambarkan kondisi pasar di dalam negeri.

Direktur Utama Bursa Berjangka Jakarta (JFX) Yazid Kanca Surya mengatakan, harga referensi yang kuat tidak bisa dibentuk melalui keputusan sepihak. Menurutnya, harga harus lahir dari proses transaksi yang transparan dan berkelanjutan.

"Harga referensi dibangun melalui proses price discovery. Ketika transaksi berlangsung secara terbuka, melibatkan banyak pelaku pasar, dan dilakukan secara berkesinambungan, harga yang terbentuk akan semakin mencerminkan kondisi pasar yang sesungguhnya," ujar Yazid dalam keterangannya.

Menurut Yazid, sebagai negara produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun harga referensi sawit yang lebih kuat. 

Selama ini, sebagian pelaku usaha masih banyak menggunakan harga internasional sebagai rujukan, meskipun aktivitas perdagangan domestik sebenarnya memiliki potensi besar menjadi dasar pembentukan harga nasional.

Ia menjelaskan, semakin aktif transaksi dilakukan melalui mekanisme bursa dengan kontrak yang jelas dan pencatatan yang terbuka, maka harga yang terbentuk akan semakin representatif.

Selain menjadi acuan jual beli, harga yang terbentuk melalui bursa juga dapat membantu pelaku usaha menghadapi risiko perubahan harga yang terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, permintaan negara konsumen, hingga perubahan pasokan.

Dalam beberapa pekan terakhir, perdagangan minyak sawit memang bergerak dinamis. Pada pekan terakhir Juli 2026, harga acuan global olein yang mengacu pada FPOL Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami kenaikan 3,52 persen menjadi US$1.175 per ton dari sebelumnya US$1.135 per ton.

Kenaikan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, seperti meningkatnya harga minyak mentah Brent, naiknya permintaan dari China, serta perkiraan pasokan minyak sawit Indonesia yang lebih ketat.

Di tengah pergerakan harga tersebut, aktivitas perdagangan olein di JFX tetap menunjukkan likuiditas yang positif. Sepanjang periode 28 Juni hingga 25 Juli 2026, volume transaksi olein mencapai 67.564 lot dengan nilai sekitar Rp6,85 triliun.

Tak hanya minyak sawit, perdagangan komoditas lain di JFX juga menunjukkan perkembangan. Pada Juli 2026, transaksi timah ekspor tercatat mencapai 2.855 lot dengan nilai sekitar Rp2,66 triliun.

Sementara itu, aktivitas Perdagangan Akses Luar Negeri (PALN) membukukan nilai transaksi sekitar Rp54,45 triliun dengan volume lebih dari 3,92 juta lot.

Secara keseluruhan, nilai transaksi perdagangan di JFX sepanjang Juli 2026 mencapai sekitar Rp3.268 triliun yang berasal dari berbagai aktivitas perdagangan, mulai dari transaksi multilateral, bilateral, hingga PALN.

Yazid mengatakan peningkatan aktivitas tersebut menunjukkan bahwa mekanisme bursa semakin dipercaya sebagai sarana pembentukan harga yang transparan dan kredibel.

Menurutnya, tujuan utama bukan hanya menciptakan harga referensi domestik, tetapi membangun sistem pembentukan harga yang dipercaya oleh seluruh pelaku usaha.

"Dunia usaha membutuhkan dasar yang kuat dalam menyusun strategi bisnis dan mengelola risiko. Harga yang lahir dari transaksi nyata dan transparan akan memberikan kepastian lebih baik bagi pasar," tutup Yazid.

Dengan penguatan mekanisme price discovery, JFX berharap Indonesia tidak hanya menjadi produsen besar minyak sawit dunia, tetapi juga mampu memiliki sistem harga yang lebih mandiri, adil, dan sesuai dengan kondisi pasar nasional.***