Dari Penjaga Sekolah hingga Senior Manager
Maryanto bersama keluarga. foto: dok. pribadi
Dari SMA Maryanto sudah membiaya diri sendiri, bahkan masih sekolah sudah bisa mengirim uang dan beras untuk orangtua.
Kalau saja Maryanto tidak nekat kabur ke Singkawang, bisa jadi dia tidak akan pernah menjadi sarjana dan bahkan punya jabatan mentereng di sejumlah perusahaan perkebunan. Sebab waktu itu, setamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Satuan Pemukiman Transmigrasi (SPT) yang kini berubah menjadi SMPN 2 Sanggau Ledo, ayahnya Musidi, justru memintanya mencari kerja saja dulu.
Soalnya Musidi belum punya uang membiayai Maryanto melanjutkan sekolah. Maklum, hasil dari lahan pertanian masih hanya cukup untuk makan dan membiayai adik-adiknya yang juga butuh biaya.
Dasar Maryanto sosok ‘petarung’, dibilang begitu justru membuatnya semakin tertantang untuk membuktikan kalau dia bisa berusaha sendiri. Walau begitu, tekadnya untuk hijrah dari Desa Kamuh ke Kota Singkawang masih coba dia diskusikan dengan guru mengajinya; Ustadz Kiyai Nadirsyah. “Kalau niatmu sudah begitu, pergilah. Memang kamu harus ke kota, biar kamu maju,” begitulah saran dari sang Kiyai.
Sayang, Maryanto rupanya langsung kabur. Dia tidak pamit kepada Musidi. Setelah sebulan tercatat sebagai siswa di SMA Kosgoro Singkawang, barulah dia pulang dan memberitahu kalau dia sudah sekolah dan tinggal di rumah seorang polisi.
Baca juga: Plampangrejo Sanggau Ledo
Tak hanya sekadar bisa sekolah, lelaki yang selalu menjadi juara satu di kelasnya itu malah bisa mengirim uang dan beras untuk orang tuanya. Lho? “Waktu saya baru sebulan kelas satu, kakak kelas saya, Ansori, ngasi tau kalau Kepala Sekolah, Hamidi Abubakar, butuh orang untuk membantu istrinya menjaga kantin. Saya langsung mau saja. Kebetulan saya sekolahnya masuk siang pulang sore. Jadi bisalah,” cerita Maryanto.
Dapat pekerjaan seperti itu, dia pun pindah dari rumah polisi tadi ke rumah Hamidi. Otomatis, urusan makan pun aman. “Nggak lama kemudian saya dapat tawaran jaga sekolah; SMAN 2. saya digaji Rp30 ribu sebulan. Jadi, pagi saya jaga kantin, malam saya jaga sekolah. Saya tidur di ruang tata usaha. Praktis, saya enggak pernah tidur di rumah Pak Hamidi, numpang alamat saja,” kenang Maryanto tertawa.
Di SMAN 2 itu, Maryanto tidak sekadar menjaga sekolah, di sanalah justru dia bisa mahir mengetik. Sebab di ruang tata usaha itu ada mesin ketik. “Tiap malam saya belajar, sampai mahir,” katanya.
Dari gajinya sebagai penjaga sekolah itulah kemudian Maryanto bisa mengirim uang atau beras buat orang tuanya. Saban hari lah Maryanto bolak-balik dari sekolahnya sejauh tiga kilometer ke SMAN 2 pakai sepeda milik Hamidi. Begitulah terus sampai dia tamat sekolah. “Waktu SMP sebenarnya saya juga sudah cari uang. Saban pulang sekolah saya ngarit rumput. Saya digaji Rp6000,” ujarnya.
Kebiasaan nyari duit sendiri sambil sekolah ini berlanjut ke bangku kuliah. Begitu Maryanto tercatat sebagai mahasiswa jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Untan, dia sudah tercatat pula sebagai resepsionis di asrama haji Pontianak. Untuk pekerjaan itu dia mendapat gaji Rp40 ribu sebulan.
“Semester 5 saya sudah bisa beli motor bekas; GL Max. Soalnya saya sudah diterima jadi pekerja honor di Kantor Wilayah Transmigrasi. Saya digaji Rp150 ribu sebulan. Saya tinggal di asrama haji di Jalan Sutoyo yang jaraknya dari kampus hanya sekitar 700 meter,” Maryanto mengenang.
Meski nyambi bekerja, Maryanto masih bisa menjadi aktivis kampus. Buktinya, dia bisa menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Komisariat HMI Universitas hingga menjadi Ketua Badan Pengawas Koperasi Mahasiswa Untan.
Di antara aktifitasnya itulah kemudian dia mengenal perempuan cantik bernama Juwita, gadis Entikong yang jadi mahasiswa Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untan. Waktu itu adalah pelatihan wirausaha tingkat universitas. Kebetulan Maryanto menjadi salah satu pemateri.
“Waktu itu saya sudah semester akhir, sementara dia masih semester 4. Dia aktif sekali bertanya dan kritis. Dari situlah saya tertarik dan akhirnya kami dekat,” tertawa Maryanto mengenang.
Singkat cerita, Maryanto lulus dengan predikat memuaskan. Tapi dia tidak langsung bekerja di dunia perkelapasawitan meski awal-awal kuliah dia sudah mengenal sawit lantaran pernah ke PTPN XIII. Tapi dia justru bekerja di perkebunan karet dari tahun 1997 hingga tahun 1999.
Dari situ, barulah dia hijrah ke perkebunan kelapa sawit setelah diterima menjadi asisten di PT. Duta Palma. Dasar jodoh tak akan kemana, setahun kemudian Juwita ternyata menyusul pula bekerja di sana sebagai tenaga administrasi.
“Saya sih yang mengajak dia bekerja di situ. Namun hanya setahun lantaran kemudian saya lamar dan kami meniikah tahun 2000. Perusahaan tak membolehkan pasangan suami istri bekerja di tempat yang sama. Akhirnya istri saya mengalah,” katanya.
Dari Duta Palma inilah kemudian karir Maryanto terus menanjak hingga menjadi manager di tahun 2010. Karir itu tak berlanjut lagi lantaran lelaki ini kemudian dipinang oleh Cargil group --- PT. Poliplant Group --- sebagai senior manager hingga 2016.
Setelahnya, PT. Sampoerna Agro Group (SAG) meminang pula. Selama hampir dua tahun dia didapuk sebagai Group Manager (GM). “Dari sinilah kemudian saya memutuskan untuk menjadi petani saja. Alhamdulillah saya bisa pula mengabdi kepada petani lantaran saya juga sudah aktif menjadi pengurus Apkasindo,” ujarnya.
Satu waktu, Maryanto jadi salah seorang sponsor program yang digagas oleh Apkasindo Singkawang. Dia pun kemudian menjadi intens komunikasi dan bahkan ngobrol dengan Ketua DPD Apkasindo Singkawang, Suwandi.
"Pada 2019, saya resmi bergabung di Apkasindo Kota Singkawang dengan jabatan sebagai Ketua Bidang Industri Kemitraan dan Pemasaran. Saya juga menjadi pengurus di DPW Apkasindo Kalimantan Barat dengan posisi sebagai Ketua Bidang Publikasi dan Pemasaran,” terangnya.








