Pengamat Pertanian di Bengkulu Ungkap Penyebab Patah Pangkal Pelepah Sawit
Ilustrasi - pelepah sawit.
Bengkulu, kabarsawit.com - Pengamat pertanian di Bengkulu Zainal Muktamar menilai adanya faktor-faktor yang mendorong terjadinya patah pangkal pelepah sawit.
Menurutnya, penyakit itu telah menjadi masalah serius bagi petani dan pemahaman mengenai faktor-faktor penyebabnya dapat membantu mengurangi kerugian.
Zainal Muktamar mengatakan, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya patah pangkal pelepah pada tanaman kelapa sawit. Di antaranya karena lamanya bulan kering di suatu daerah.
Menurutnya penyakit itu lebih sering ditemukan di daerah yang memiliki bulan kering lebih dari 3 bulan, curah hujan kurang dari 60 mm per bulan, defisit air lebih dari 200 mm per tahun, dan deretan hari panas terpanjang lebih dari 20 hari. Hal ini menunjukkan bahwa kekurangan air dan panas yang berlebihan dapat menjadi penyebab terjadinya patah pangkal pelepah.
"Jadi salah satu penyebab patah pangkal pelepah tanaman kelapa sawit karena kekurangan air dan cuaca panas yang berlebihan," ujar Zainal, kemarin.
Selain itu, umur tanaman juga mempengaruhi kerentanan terhadap penyakit patah pangkal pelepah. Tanaman kelapa sawit yang telah berusia lebih dari 9 tahun cenderung lebih rentan terkena penyakit ini.
"Kalau usia tanaman lebih dari 9 tahun maka risiko terserang penyakit ini juga cukup besar," ujarnya.
Varietas tanaman juga menjadi faktor yang signifikan. Bahkan tanaman sawit yang memiliki pelepah panjang lebih rentan terhadap penyakit patah pangkal pelepah.
"Umumnya, varietas tanaman sawit yang berasal dari jenis dumphy lebih mudah terkena penyakit ini," tuturnya.
Ketika tanaman kelapa sawit berada dalam fase produksi yang tinggi, risiko terkena penyakit patah pangkal pelepah meningkat. Para petani perlu memperhatikan bahwa tanaman kelapa sawit akan menunjukkan gejala-gejala penyakit ini apabila hasil per pohon lebih dari 200 kg per tahun.
"Oleh karena itu, pemantauan yang cermat terhadap produksi tanaman kelapa sawit menjadi kunci dalam mencegah penyebaran penyakit ini," ujarnya.
Selain faktor-faktor di atas, kondisi tanah juga berperan dalam prevalensi penyakit patah pangkal pelepah pada tanaman kelapa sawit. Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada perkebunan kelapa sawit yang memiliki tanah berpasir.
"Struktur tanah yang tidak ideal atau berpasir juga dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit pada tanaman kelapa sawit," ungkap Zainal.
Dalam menghadapi masalah patah pangkal pelepah pada tanaman kelapa sawit, petani perlu memperhatikan faktor-faktor yang telah disebutkan di atas.
Dengan memahami dan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang tepat, diharapkan dapat mengurangi dampak negatif penyakit ini terhadap produksi kelapa sawit di Bengkulu.
"Kami akan lebih berhati-hati dan memperhatikan kondisi lingkungan serta usia tanaman. Dengan melakukan hal itu, kami berharap dapat melindungi tanaman kami dari penyakit patah pelepah dan meningkatkan hasil panen kami," pungkas Darun, petani kelapa sawit di Bengkulu Utara.








