Konsumsi Meningkat, Daya Beli Lemah
Pemprov Bengkulu saat melakukan survei pasar.
Bengkulu, kabarsawit.com - Kelompok petani sawit di Provinsi Bengkulu mulai meningkatkan konsumsinya meski dalam kondisi daya beli lemah.
Yusup (31), salah satu petani sawit di Kabupaten Bengkulu Utara mengaku banyak membeli perlengkapan dan bahan pokok untuk menyambut bulan puasa.
Diakuinya, saat bulan puasa tiba konsumsi cenderung meningkat dari hari biasa. Padahal, daya beli kelompok tani saat ini tengah tidak menentu diakibatkan dari dampak produktivitas TBS yang berkurang.
"Hasil panen berkurang, tapi kebutuhan rumah tangga makin banyak. Jadi mau tidak mau harus dipenuhi," kata Yusup, kemarin.
Pria yang memiliki satu setengah hektare kebun sawit ini mengaku sudah tiga pekan tidak panen lantaran tandan buah segarnya yang berkurang.
Hal ini karena dampak harga pupuk bersubsidi yang mahal dan pohon sawit yang masih masa trek. "Sudah tiga pekan belum panen, padahal besok sudah mulai puasa," keluhnya.
Meski begitu, dirinya tetap mendahulukan kebutuhan rumah tangga daripada operasional perkebunannya. Hal ini demi menyambut Ramadhan dengan konsumsi dan hidangan terbaik daripada hari biasa.
"Kalau hari biasa, Rp250 ribu itu cukup untuk kebutuhan sembako dalam sepekan. Karena ini masih awal, ya pembelian tambahan seperti daging, minuman sirop, aneka makanan bertambah sampai Rp100 ribu," kata Yusup.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bengkulu Yenita Syaiful mengungkap berdasarkan survei lapangan terkait konsumsi rumah tangga menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi meningkat antara 10-30% hingga 100-150% selama bulan puasa.
Komponen penunjang peningkatan itu termasuk anggaran untuk belanja sahur dan berbuka. Bahkan meningkatnya konsumsi sudah terjadi sepekan sebelum memasuki Ramadhan.
"Alasannya karena masyarakat berlomba memberikan yang terbaik, memberikan suguhan yang lain dari pada biasanya untuk menu buka puasa dan sahur," ujar Yenita.
Yenita juga meningkat, daya beli masyarakat ada ketimpangan, di mana petani perkebunan yang biasanya menjadi kalangan teratas dari segi konsumsi, saat ini menurun menyamai kondisi masyarakat nelayan, maupun pekerja lepas.
"Mungkin karena pengaruh harga TBS juga ya, yang saat ini harganya turun lagi sekitar Rp1.900 per kilogram di daerah, jadi sangat berpengaruh," tukasnya.








