https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Tentang Petani Sawit Dari Ujung Timur Indonesia

Tentang Petani Sawit Dari Ujung Timur Indonesia

Saferius Pare berada di kebun kelapa sawit miliknya. (Istimewa)

Jakarta, kabarsawit.com - Sebetulnya lelaki 55 tahun ini bukan asli dari Kalimantan Timur (Kaltim). Saferius Pare sejatinya dari Flores Maumere, Kecamatan Kewapante, Nusa Tenggara Timur. 

Namun program transmigrasi tahun 1996 silam mengantarnya ke Kalimantan Timur.

Kisahnya ke Kaltim juga terbilang nekat. Mendengar informasi dari radio pada April 1996 ada program transmigrasi ke Kaltim, ayah dua anak ini langsung berminat.

Sempat bersitegang dengan sang istri, Saferius tetap kekeh mengikuti program transmigrasi untuk mengubah nasib di rantau orang.

"Saya bilang sama istri, kita harus pergi. Tapi istri sempat ragu karena kondisinya waktu itu hamil 7 bulan. Namun saya yakinkan, kita harus pergi, hidup dan mati kita di tangan Tuhan," ujarnya sambil terbatah-batah kepada kabarsawit.com, kemarin.

Usai sepakat dengan sang istri, keesokan harinya, Saferius menangkap dua ekor ayamnya lalu menjualnya untuk ongkos ke kantor transmigrasi yang lumayan jauh dari rumahnya.

"Waktu itu ongkos ke kantor transmigrasi Rp150 per orang. Hasil dari menjual dua ekor ayam itu Rp6.000. Sisa uangnya untuk biaya hidup," kata dia.

Tiga hari setelah mendaftar, Saferius dan istri kembali datang ke kantor imigrasi. Namun, kala itu petugas kantor sempat menolak permohonan mereka karena kondisi sang istri hamil.

"Saya tetap bersikeras waktu itu. Saya sampai bilang ke petugas imigrasi, hidup dan mati di tangan Tuhan, kami sudah tidak punya apa-apa lagi di sini. Pokoknya kami harus berangkat," cerita Saferius kala itu.

Mendengar itu pihak imigrasi meloloskan mereka sebagai peserta transmigrasi dan ditempatkan kala itu di daerah Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) saat ini.

"Kami waktu itu di Tenggarong. Di sana kami dikasih lahan bersertifikat seluas 1 hektare ditambah rumah. Nah, itulah modal awal kami," ujarnya.

 

Lahan seluas 1 hektare itu pun langsung dimanfaatkan dengan menanami cengkeh dan kakau (cokelat).

"Sejak di Flores, keluarga besar kami memang petani. Sampai di Tenggarong juga begitu. Maka lahan 1 hektare itu langsung saya tanami cengkeh dan cokelat. Waktu itu, dalam pikiran saya, yang penting bisa makan dulu," kata Saferius.

Di tahun 2002, tepatnya 17 Agustus, Saferius sempat balik kampung ke Flores dengan alasan bosan tinggal di Tenggarong. Lahan hingga rumahnya pun dijual. 

"Hasilnya waktu itu, kami beli lahan dan rumah juga di kampung," ujarnya.

Namun nasib berkata lain, tahun 2010 lalu Saferius dihubungi kerabatnya bahwa di Rantau Pulung Kutai Kartanegara ada perusahaan yang membutuhkan banyak tenaga kerja.

Tak pikir panjang, Saferius beserta istri dan dua anaknya langsung berangkat. "Saya waktu itu kerja sebagai buruh harian di PT Nusa Indah Kalimantan Plantation. Gajinya Rp42.000 per hari. Itulah biaya hidup kami yang kala itu tinggal di barak perusahaan," ujarnya.

Mendengar ada lahan kosong sisa PT Nusa Indah Kalimantan Plantation yang bisa digarap oleh siapapun, Saferius langsung menggarap seluas 6 hektare.

"Waktu itu saya tanam sawit secara bertahap. Sekitar 20 batang tahap awal. Sebab saat itu bibit sawit di sini mahal," kata dia.

Sudah merasakan manisnya duit hasil 20 batang itu, Saferius pun semakin giat menggarap lahan hingga akhirnya seluas 6 hektare.

"Waktu itu saya kena pemutihan atau PHK dari perusahaan. Disitu lah saya fokus menjadi petani sawit," ujarnya.

Perlahan tapi pasti, dari hasil sawit seluas 6 hektare itu, kini hidup Saferius dan keluarganya sudah mulai berubah hingga punya mobil, rumah dan kehidupan yang layak.