https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Indonesia Bisa Tetapkan Harga CPO Dunia, Tapi...

Indonesia Bisa Tetapkan Harga CPO Dunia, Tapi...

Jakarta, kabarsawit.com - Kendati produsen CPO terbesar di Dunia, hingga kini Indonesia masih belum mampu menetapkan harga minyak kelapa sawit di pasar internasional.

Menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Indonesia dapat mengendalikan harga minyak sawit jika menguasai pasar hingga 50%.

"Saat ini pangsa pasar minyak sawit dunia 33%. Sedangkan 67% lainya bersumber dari minyak nabati lainya termasuk minyak biji bunga matahari," kata Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono belum lama ini.

Eddy menjelaskan, Indonesia merupakan produsen minyak sawit nomor satu di dunia, kedua Malaysia. Sementara pangsa pasar minyak nabati di dunia, Indonesia juga terbesar yakni 33%. Lainnya Malaysia, Amerika Latin dan Afrika.

"Khusus minyak sawit kita lebih dari 50%, mungkin kita bisa mempengaruhi harga pasar Internasional, karena apapun yang kita lakukan pasti berpengaruh,” ujarnya.

Eddy mengatakan, harga minyak nabati dari bunga matahari jauh lebih rendah ketimbang minyak nabati kelapa sawit. Sementara produksi minyak nabati bunga matahari juga jauh lebih kecil yakni 1 juta ton/hektar. Sementara kelapa sawit bisa mencapai 4 juta ton/tahun.

"Harga minyak sawit memang sempat tinggi pada tahun 2022 lalu, dimana dipengaruhi perang Rusia dengan Ukraina," bebernya.

Dari catatannya, ekspor sawit pada tahun 2021 mencapai 34,9 miliar dolar AS dan tahun 2022 mencapai 37,7 miliar dolar AS. Namun pada tahun 2023, turun menjadi 29,54 miliar dolar AS, ini dikarenakan harga minyak sawit dunia juga menurun. Sedangkan hingga Mei 2024 sudah mencapai 9,78 miliar dolar AS.

"Dalam kurun waktu 5 tahun produksi stagnan, ini dikarenakan adanya larangan impor. Kemudian tidak ada peremajaan sawit sehingga memperlambat produktivitas dan membuat produksi jadi stagnan," imbuhnya.

Pada tahun 2020 produksi sekitar 51,5 juta ton, tahun 2021 51,3 juta ton tahun 2022 sebesar 51,2 juta ton, tahun 2023 sebesar 54,8 juta ton dan hingga Mei 2024 22,1 juta ton.

Sedangkan konsumsi dalam negeri mencapai tahun 2020 sebanyak 17,3 juta ton, tahun 2021 sebanyak 18,4 juta ton, tahun 2022 sebanyak 21,1 juta ton tahun 2023 sebanyak 23,2 juta ton dan pada tahun 2024 hingga Mei mencapai 9,5 juta ton.